Tentang Lidah

  


Seri Wisdom in Living
Adrian Kencana
Ringkasan khotbah 14 November 2021

Bukan hanya kata-kata yang kita ucapkan, tapi juga kata-kata yang kita ketik (yang kita kirim lewat chat, kita forward, atau sosial media), matters to God. Penguasaan kata-kita adalah merupakan sebuah bukti iman yang sejati – Yakobus 1:26.

Buka Yakobus 3:1-12.

The Tongue is Accountable (ayat 1)

Guru atau pengajar di jaman itu di asosiasikan dengan seorang rabi, yang sangat dihormati. Jadi kemungkinan besar banyak umat Tuhan yang berambisi menjadi seorang guru (dengan motivasi yang salah). Padahal di dalam Kristus, kita sudah dikenal, di kasihi Allah, jadi mengapa kita masih mencari kehormatan dan ingin disukai orang?

Seorang guru punya pengaruh yang besar, karena bisa mempengaruhi sebuah kelompok, bahkan sebuah gereja besar. Karena itulah seorang guru harus mempertanggung jawabkan dirinya, dan juga apa yang dia ajarkan! Para guru akan dihakimi dengan lebih berat karena pengaruhnya yang besar!

Yakobus bukan menyuruh kita untuk tidak menjadi guru, tapi supaya kita lebih berhati-hati dan punya rasa takut pada Allah yang benar. Jangan kita menganggap remeh karena kita harus mempertanggung jawabkan apa yang kita katakan dan contohkan! Teruslah bergantung pada tuntunan Tuhan, bukan pada kemampuan diri sendiri saat menyiapkan dan mengajar.

Lalu bagaimana kita yang bukan seorang guru atau pemimpin? Perhatikan kalimat terakhir di ayat 1, karena ayat tersebut menyebutkan bahwa kita yang bukan seorang guru, tetap akan dihakimi atas perkataan kita!

Setiap dari kita juga punya pengaruh pada sesama kita, mau tidak mau. We will all be accountable!

Ayat ke-2 lalu mengalihkan perhatian dari pada pengajar pada kita semua. Semua orang bersalah, semua orang bergumul dalam perkataan!

The Tongue is Powerful

Lidah/perkataan kita punya kuasa yang besar. Yakobus memberikan 3 gambaran yang menunjukkan betapa besar nya kuasa lidah: kekang kuda yang kecil, kemudi kapal yang kecil, dan api yang kecil. Hal-hal yang kecil ini mempengaruhi hal-hal yang besar (sama seperti lidah).

Seberapa dari kita menyadari kuasa perkataan kita? Berapa banyak dari ribuan kata yang kita bicarakan (lewat mulut atau ketikan) yang kita pikirkan dengan benar-benar?

Kata-kata yang diutarakan untuk kita bahkan sejak kita kecil, bisa membentuk siapa diri kita sampai saat ini, bisa terngiang-ngiang. Itu bisa positif, dan bisa juga negatif (terhantui dengan kata-kata yang abusive, kasar, dan menyakiti kita dari seseorang).

Kekang kuda dan kemudi kapal kalau dikendalikan dengan baik akan membawa hal yang baik. Tapi yang terakhir, tentang api, menyebutkan akan membawa kehancuran yang pesat dan besar, kalau tidak dikendalikan.

Perkataan kita punya pengaruh yang sangat besar! Kita bisa memakai perkataan kita untuk membangun, melengkapi, memulihkan, dan mengasihi. Tapi sebaliknya, kalau kita tidak berhati-hati dan sembarangan, perkataan kita akan menghancurkan hidup seseorang.

Perhatikan lagi ayat 6. Kehancuran oleh kata-kata paling sulit untuk disembuhkan; kata-kata yang meyakitkan kita bertahun-tahun lalu mungkin masih terngiang-ngiang sampai saat ini.

Bagaimana dengan saudara? Pernahkah kita ada kata-kata yang menyakiti seseorang, dan bahkan sampai membuat dia meninggalkan pelayanan, meninggalkan Tuhan? Atau membuat dia terluka bahkan sampai sekarang?

– Saat kita sedang marah-marah, untuk menyakiti, merendahkan, menjatuhkan?
– Memfitnah orang lain supaya kita tidak menjadi bersalah (kita mengorbankan orang tersebut karena kita tidak mau mengakui kesalahan kita)
– Menggosipkan orang, menceritakan gosip pada orang-orang yang tidak ada hubungannya (mengorbankan orang lain untuk kenikmatan diri kita).
– Menggerutu, menghancurkan kesatuan
– Criticism, kritik yang tanpa pertimbangan, mematahkan semangat karena fokus pada kelemahan saja
– Sarcasm/sindiran – mengorbankan seseorang demi kenikmatan pribadi (menjadikan kelemahan orang sebagai bahan tertawaan)

Dalam ayat 7-8, Yakobus menuliskan bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa untuk menjinakkan lidah yang buas.

ESV: “no human being can tame the tongue”; “tidak seorang manusia pun”! Kita harus menjinakkan lidah kita, tapi juga kita tidak mampu – sebuah paradoks. Jadi bagaimana? Kita memerlukan external help! Yaitu bantuan ilahi untuk bisa mengekangnya.

The Tongue is Inconsistent

Ayat 9 menunjukkan lidah kita memuji Tuhan tapi juga mengutuk sesama kita (yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah). Kita lupa apa yang kita katakan pada sesama kita menunjukkan apa yang kita percayai tentang Tuhan!

Penyembahan kita yang sejati pada Allah adalah dengan mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita.

The tongue’s inconsistency deveals a deeper problem: our heart. Akar dari masalah nya adalah sebenarnya hati kita! Karena apa yang diucapkan kita adalah luapan dari isi hati kita (Matius 12:34b).

Karena itu hati kita lah yang perlu diperbaharui dan dikuduskan.

Redeeming the tongue:
a. be honest: akui dengan jujur dan bertobatlah dari kata-kata yang suka merendahkan dan menjatuhkan. Cari pengampunan dari Tuhan! Cari juga pengampunan dari orang yang sudah kita sakiti.
b. behold: pandang pada Yesus, yang memakai lidahNya yang sempurna, yang penuh ketaatan, penuh kuasa, membebaskan, dan menjadi terang bagi banyak orang!
c. be filled: dipenuhilah dengan Roh Kudus. Lidah api dalam Kisah Para Rasul di kontraskan dengan api neraka di Yakobus yang menghancurkan. Kita butuh kuasa Roh Kudus untuk menguasai hati kita dan menjinakkan lidah kita.

Datanglah pada Tuhan, minta Roh Kudus memenuhi kita dan menolong kita supaya saat kita berkata-kata, kata-kata kita penuh dengan kasih, damai, suka cita, dsb (buah Roh).

 

Post a comment

X