Rasa bersalah (Guilt)

  


Seri What is so bad about sin?
Stephanus Pradhana
Ringkasan khotbah 27 Maret 2022
Imamat 5:17

Sin – the action, guilt is the aftermath/the consequences. Ketika kita melakukan dosa (sin), kita bersalah (guilty) di hadapan Tuhan. Bahkan ketika kita tidak sadar kita sedang melanggar perintah Allah, kita tetap bersalah. Status kita bersalah, dan kita akan mendapatkan hukumannya.

Kalau hati nurani kita berjalan dengan semestinya, kita akan merasa bersalah saat berbuat salah. Di hadapan Allah yang Maha Kudus, Yesaya dalam Yesaya 6 tahu betapa bersalah dan berdosa nya Yesaya.

Saat kita bersalah di hadapan Tuhan, kita seharusnya merasa bersalah di hadapan Tuhan. Bagi sebagian dari kita, rasa bersalah di hadapan Tuhan bukan merupakan sebuah problem. Hati nurani kita sudah tumpul dan sering kita berdosa tapi tidak merasa bersalah.

Tuhan memberikan kita rasa bersalah supaya kita tahu kita sudah bersalah di hadapan Tuhan; sama seperti smoke alarm yang memberi tahu saat ada asap di rumah – sungguh menakutkan kalau smoke alarm kita rusak dan kita tidak sadar ada api di dalam rumah!

Kapan kita terakhir merasa bersalah di hadapan Tuhan? Atau kita tahu kita bersalah tapi tidak merasa bersalah? Minta lah pada Roh Kudus untuk melembutkan hati kita supaya kita bisa berespon terhadap dosa!

Dan ada yang merasa bersalah saat berdosa, tetapi berusaha menghilangkan rasa bersalah itu, supaya tuduhan rasa bersalah dalam hati tertutupi. Ada juga yang mencari pembenaran dengan merendahkan dosa, menyalahkan orang lain, mencari cara lain untuk menutupi/melunasi dengan pelayanan (self-atonement), dan sebagainya. Dan ini semua merusak hati nurani kita! Cepat atau lambat hukuman Tuhan akan datang pada kita, dan murka Allah sungguh nyata!

Mazmur 51:6 (atau Mazmur 51:4 dalam bahasa Inggris) – Daud menyatakan bahwa dia sadar dia telah bersalah di hadapan Tuhan.

Status bersalah dan rasa bersalah = berbeda; bagaimana kita bisa mengatasi status bersalah kita di hadapan Tuhan?

Baca Mazmur 32:1-5 – Daud menderita secara emosional, intense guilt akan dosa yang dia sudah lakukan. Dia “memberi tahu dosa nya pada Tuhan”, “tidak menyembunyikan dosa nya”, dan “mengakui kejahatannya di hadapan Tuhan”. Nothing is held back.

Darimana Daud punya keberanian untuk membuka diri secara total seperti ini pada Tuhan? Lihat Mazmur 51:3, dia berani mengakui semuanya karena pengenalannya akan karakter Allah – dia tahu kemurahan hati Allah yang berlimpah, mengejarnya untuk bertobat kembali padaNya!

Seringkali Allah menekan kita dengan rasa bersalah yang hebat supaya kita mengakui kesalahan kita di hadapan Tuhan dan kembali padaNya! Beranikah kita mengakui kesalahan kita di hadapan Allah?

Mazmur 32:5b – kita bisa melihat Allah mengampuni rasa bersalah dari Daud di saat Daud membuka diri dan datang dengan jiwa yang hancur padaNya.

Seberapa pun besar nya kejahatan dan dosa kita di hadapan Tuhan, Allah akan mengampuni kita, di saat kita sungguh-sungguh membuka diri dan datang kepadaNya!

Gambaran tentang pengampunan dosa dalam Mazmur 32

[1] “whose transgression is forgiven” – Pelanggaran yang diampuni (seperti beban yang diangkat)
[2] “whose sin is covered” – Dosa yang ditutupi (Allah tidak lagi mengungkit-ngungkit pelanggaran kita)
[3] “whom the LORD does not charge with iniquity” – Kesalahan yang tidak diperhitungkan – an accounting term (seperti hutang credit card). Hutang kita tidak lagi diperhitungkan oleh Allah (tidak perlu bayar). Baca Mazmur 130:3.

Ibrani 9:22 menggambarkan pengampunan dosa yang diberikan Allah pada kita. Darah Kristus diberikan untuk mengampuni dosa-dosa yang kita perbuat di hadapan Allah! Murka Allah ditimpakan pada Dia supaya kita berolah pengampunan dosa, tidak lagi perlu membayar hutang dosa!

Hanya dengan memahami kasih karunia Allah, kita bisa menghadapi dosa kita, dan meminta pengampunan dosa. Kita tidak perlu lari dan sembunyi lagi di hadapan Allah, datang dengan hati terbuka, hati yang hancur dan mintalah pengampunan dariNya!

Datang, sebelum terlambat!

Post a comment

X