Planning your future

  


Seri Building your future
Mie Khie Liong
Ringkasan khotbah 16 Februari 2020
Yakobus 4:13-17

Sermon Translation in English (Not available this week):

Praise & Worship:

Dalam ayat 13-14, ada seorang yang sedang berencana untuk masa depan. Perhatikan ayat ini tidak berkata bahwa kita tidak boleh berencana apa apa, tapi yang jadi masalah adalah orang ini hanya berencana untuk dirinya, tanpa melibatkan Tuhan sama sekali.

Kita tidak akan pernah tahu hidup kita. Kita ada hari ini, mungkin besok sudah meninggal dunia. Hidup kita rapuh, seperti uap yang menghilang setelah sesaat.

Ada yang berkata “maybe it’s wise to think that this day is our last day”.

Dunia selalu mengajarkan kita untuk menjadi pemimpin atas hidup kita, mengambil kontrol akan hidup dan bahkan sampai jiwa kita. Padahal kita tahu bahwa Tuhan lah yang memegang hidup dari kita masing-masing dan semua ada di tanganNya (dan DIa pun tahu kapan hidup kita akan berakhir).

  • “Jika Tuhan mengkehendakinya”
  • Our plan is not set in stone but flexible
  • We are asking God to guide us along the way
  • We are surrendering the outcome to God

[1] Our plan is not set in stone

Ketika Paulus dipanggil Tuhan untuk melayaninya, Tuhan tidak memberikan semua rencana nya dari depan sampai belakang. Tuhan menuntun Paulus kemana Dia mau pada saat nya (lewat mimpi, dan sebagainya).

Hidup kita diberikan Tuhan, dan planning hidup kita seharusnya juga mengikutsertakan Tuhan. Jadi bukan kita buat rencana, lalu kita serahkan pada Tuhan begitu saja; tetapi Tuhan ingin diikut sertakan saat kita membuatnya, untuk memuliakan Tuhan. Bukan rencana untuk diri kita sendiri saja!

Ketika pekerjaan dan bisnis kita malah membuat hubungan kita semakin jauh, mungkin kita harus memikirkannya dengan serius.

Some practical planning (by Jory Mackay)

  • Think in years, not days
  • Understand the effect of the decision fatigue (jangan membuat keputusan saat lelah)
  • Cut down the number of decisions you make each day
  • Consider the opposite
  • Stay away from “What if” game

[2] We are asking God to guide us along the way

Baca Matius 6:26. Tuhan mencukupkan apa yang kita perlu, yang kita butuhkan dan itu yang Tuhan sediakan. Ini seharusnya membuat kita merasa tenang.

Kita perlu planning bersama dengan Tuhan, karena Tuhan lah yang mensupply dan mencukupkan kebutuhan kita.

[3] We are surrendering the outcome to God

Berhubungan dengan planning, “God will not to do it for us, but we do it with God”.

Kita juga aktif berencana dan kita bisa melihat Tuhan bekerja. Kita harus punya confidence in the power of God. Kita ingat pertarungan antara Daud dengan Goliath. Daud maju untuk berperang bertemu dengan Goliath, dia tidak berlutut berdoa di tenda dan Goliath tiba tiba langsung mati. Dia percaya pada kekuatan Tuhan dan dia juga bergerak maju.

Paulus pun demikian saat dia menulis Filipi 4:13 di dalam penjara. Dia menyerahkan semuanya pada Tuhan, bersandar pada Dia!

Pertanyaannya adalah, bisakah kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan? Dan membiarkan Dia yang bekerja? Dalam planning kita, kita akan menghadapi kesulitan kesulitan. God can find a way for us, God will make a way for us.

Journey bersama Tuhan seharusnya penuh suka cita, karena beban kita bisa diserahkan kepada Tuhan! Ketika kita maju bersama dengan Tuhan dalam kesulitan apa pun dan percaya padaNya, kita bisa bersuka cita dalam apa pun juga, bahkan di saat apa yang kita rencanakan tidak sesuai dengan apa yang kita mau.

Post a comment

X