Perumpamaan tentang pelita

  


Ringkasan khotbah 11 Desember 2022
Mie Khie Liong
Markus 4:21-25

Perumpamaan ini sebenarnya merupakan satu kesatuan dengan perumpamaan minggu lalu sebelumnya, yaitu perumpamaan tetang penabur dan benih: ada hati yang keras, berbatu, berduri, dan hati yang subur.

Bagaimana kita bisa tahu apakah firman ini masuk ke hati yang subur (karena ini masalah hati, susah untuk dilihat atau diketahui)? Kita bisa melihat dari buahnya.

Dalam Matius 5:11, Yesus menjelaskan lebih lanjut arti dari sebuah pelita; yaitu supaya orang-orang bisa melihat dan merasakan buahmu, itu berarti pelita mu bercahaya.

Yesus mau buah yang kita hasilkan bisa dirasakan orang-orang sekitar kita.

”Kamu adalah terang dunia”

Banyak orang Kristen yang tidak berbuah, sehingga tidak menjadi berkat di luar sana. Sebagai pengikut Tuhan, kita akan disorot oleh dunia dan sungguh sayang kalau anak Tuhan tidak berubah, tidak mencerminkan karakter Kristus, dan lebih parah lagi, malah menghambat orang untuk mau mengenal Tuhan yang sebenarnya, menjauhi Dia.

Kesaksian kita harusnya mencerminkan terang Kristus, bukan kegelapan dari dunia ini! Betapa indahnya kalau terang kita bisa menunjukkan siapa diri Kristus melalui hidup kita.

Markus 4:22 bisa menunjuk pada orang Farisi (kalau dilihat dari perumpamaan sebelumnya dan dari Lukas 12:1-4) yang munafik (hanya indah dari luar). Tuhan akan menyatakan apa yang ada di hati kita; kita bisa menyembunyikan pada orang siapa diri kita, tapi Tuhan akan menyatakannya.

Tekanan pada bagaimana kita mendengarkan ( pay attention how you listen)

Dalam perumpamaan penabur, Tuhan ingin kita melihat hati kita – seperti apakah hati kita saat mendengar firman Tuhan? Dan apakah kita mengevaluasi apa yang kita dengar?

Mengapa hati kita tidak subur? Mungkin karena kita sibuk dengan urusan keluarga, dengan bisnis yang kita sedang jalin, dan sebagainya?

Atau apakah kita setiap kali mau mendengarkan firman Tuhan dalam kebaktian, kita selalu siap untuk mengkritik, mengamati apa yang kurang? Maka tidak heran kalau kau tidak mendapatkan apa yang Tuhan ingin katakan padamu, karena hati mu adalah hati yang keras!

Evaluasi hati mu selalu. Kita bisa berubah, apa pun kondisi hati kita saat ini. Doa kan dan bawakan itu pada Tuhan, untuk menyingkirkan hal-hal yang menghalangi kita.

Kalimat dalam Markus 4:24 juga dipakai dalam Lukas 6:37 dan juga ada hubungan dengan Mat. 7:1-5. Matthew 7:1–5 explains that how we judge others’ actions will influence how they judge ours. Luke 6:37–38 adds that our personal policies on forgiveness and giving will determine how others forgive and give to us. Hal yang sama dalam pengajaran Yesus ini: Bagaimana kita mendengar mempengaruhi hasil atau buah yang didapatkan ( perhatikan ayat 25). Di masa datang, Tuhan menghakimi atau tanggungjawab kita dari buah atau perbuatan yang terpancar dari apa yang kita dengar. Semakin kita mendengarkan dengan baik maka kita akan terus ditambahkan hikmat dan buah dalam kehidupan kita. Ada penghakiman yang akan terjadi di masa akan datang. Kita akan dihakimi apakah hidup kita berbuah.

Dalam Yesus tidak ada penghukuman lagi karena Yesus sudah mati, dihukum karena dosa (Roma 8:1) tetapi Paulus juga menasihatkan kita agar hidup kita atau perkataan kita tidak seenaknya saja ( Roma 14:12- So then each of us will give an account of himself to God. ESV) juga Petrus menasihatkan kita (1 Petrus 1:17- And if you call on him as Father who judges impartially according to each one’s deeds, conduct yourselves with fear throughout the time of your exile, ESV).

Kalimat dalam Markus 4:25 juga dipakai dalam Matius 25:28 tentang perumpamaan tentang talenta. Dalam konteks Matius 25:14-30, menekankan pentingnya orang yang mempunyai 5 talenta ( menghasilkan 10 talenta) dan 2 talenta itu ( menghasilkan satu talenta) berbuah atau menggunakan talentanya dengan baik. Mereka berubah, fruitful, dan berguna, useful. Sebaliknya yang mempunyai 1 talenta (diharapkan menghasilkan 1 talenta saja) itu tidak berbuah dan tidak berguna. Dia hanya mendengar dan tidak melakukan. Dia tidak menghargai perkataan Yesus. Iman tanpa perbuatan menunjukkan iman yang tak berguna, useless, atau iman yang mati, dead faith ( lihat Yakobus 2: 20,26,). Lalu yang 1 talenta diberikan pada orang yang awalnya punya 5 talenta ( sudah menghasilkan 10 talenta), dalam Matius 25:28. Kemudian Yesus menyatakan ayat 29 (the man who is fruitful & useful in His eyes will get more responsibility– “For to everyone who has will more be given, and he will have an abundance. But from the one who has not, even what he has will be taken away”), yang mirip dengan Markus 4:25.

Sekarang dalam konteks Markus 4:25, Yesus menekankan pentingnya kita mendengar dengan baik terhadap kebenaran-Nya atau perkataan-Nya supaya terang kita terlihat sehingga kita menjadi bertambah hikmat, berbuah dan berguna, dan makin bertumbuh seperti Yesus. Bagi yang tidak melakukan maka kita akan menjadi tidak berhikmat, tidak berbuah dan tidak berguna. * When we continually fill up our hearts with as much of God’s wisdom as we can take in and apply it in our lives, it multiplies. If we only accept a little truth about Jesus and His words, it will have neither the context nor the mass to stay in our hearts. Wisdom and fruit don’t stay if they are not reinforced or applied in our lives. And Jesus said they relate to how we listen well on His words. More Listening and obedience His words more wisdom, more fruitful, more useful and more life transformation. For those who listen well ( and obey what they heard from His words) will be more wisdom, more fruitful, more useful, and more life transformation like Jesus. There is multiplying for the one who listens well His words. But remember, for those who don’t listen well, they will be no wisdom, fruitless, useless and no life transformation.

Mayoritas dari diri kita ada di hati yang berduri. Kita perlu merefleksikan apakah hidup kita hanya disibukkan dengan hidup dan ambisi pribadi. Kita sudah diberikan talenta-talenta dari Tuhan untuk menjadi berkat dan memuliakan namaNya, apa yang kita lakukan dengan talenta-talenta ini?

Kalau hidup kita hanya penuh dengan kesibukan, keluhan, kekuatiran, aktivitas, tapi tidak ada pertumbuhan, kita perlu berhati-hati. Jangan sampai saat Yesus datang, Dia tidak menemukan buah apa apa selama kita hidup. Camkanlah apa yang kamu dengar, evaluasi hatimu, evaluasi hidupmu!

Kita tidak tahu berapa lama lagi kita akan hidup, karena itu waktu nya adalah sekarang untuk kita berubah dan berbuah. Jangan tunggu nanti. Tunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh melihat Tuhan sebagai Raja dalam hidup kita!

Post a comment

X