
Menjadi bapak yang tegas dan lemah lembut
Pdt Victor Liu
Ringkasan khotbah 1 September, Father’s Day (Hari Bapak)
Menjadi bapak yang tegas dan lemah lembut bukanlah hal yang mudah. Pribadi yang mana yang cenderung anda punyai?
a. Kasih (terlalu kasihan, sulit berkata tidak, dll)
b. Disiplin/kontrol (banyak berkata tidak, peraturan yang selalu harus diikuti, dll)
Setiap orang selalu punya kecenderungan ke salah satu sisi. Yang kita lakukan adalah pertama-tama kita harus tahu kecenderungan kita ke arah mana, tahu kelemahan kita.
Kolose 3 menyatakan bapak-bapak (dan orang tua) supaya tidak menyakiti hati anak-anak dengan cara didik kita. Efesus 6 juga berkata yang serupa, bahwa kita harus mendidik anak, tapi jangan sampai caranya salah.
Ibrani 12 menyatakan betapa Tuhan yang memberi disiplin pada anak-anakNya. Dan itu karena kasihNya! Jadi ketika berbicara soal disiplin, itu karena Tuhan yang memberi contoh pada kita.
1Korintus 11 menyatakan betapa banyak jemaat Korintus yang mati karena tidak menghargai Tuhan dan didisplinkan.
Dalam alkitab ada 2 cerita yang kita bisa pelajari mengenai kegagalan sebagai seorang ayah – dan akhirnya menghancurkan hidup anak-anaknya.
KEGAGALAN ELI (1Samuel 2:12)
“tidak mengindahkan Tuhan” – tidak mengenal dan tidak takut pada Tuhan. Mereka punya posisi sebagai imam tapi mereka tidak tahu siapa yang mereka sembah. Mereka melayani tapi motivasi untuk kepentingan diri sendiri.
1Samuel 2:29 – Imam Eli (ayahnya) juga melakukan hal yang sama; punya kepentingan diri sendiri.
Di tengah situasi seperti ini, imam Eli salah karena dia tidak memberikan disiplin pada anak-anaknya. Dia membiarkannya (“…menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku”)
Hukumannya? Dikatakan anak-anak nya akan meninggal dan seluruh generasinya tidak akan melayani lagi di bait Allah.
Apa kegagalan imam Eli? Karena tidak tegas!
KEGAGALAN DAUD
a. 2Samuel 13:21-22
Daud adalah raja yang bijaksana, dan banyak hal baik yang kita bisa pelajari dari Daud. Tapi dia punya suatu kelemahan sebagai orang tua yang dicatat alkitab.
Daud pun kurang berani, tegas, dan disiplin kepada anaknya.
Kebencian Absalom akhirnya membunuh Amnon (karena Amnon memperkosa adik Abasalom, Tamar). Pada akhirnya dia pun sampai melakukan kudeta pada ayahnya, Daud.
Menurut hukum Taurat yang ada di Imamat, Amnon harus dipanggil Daud untuk dihukum mati – tapi Daud tidak melakukannya (hanya disebutkan Daud sangat marah). Akhirnya Absalom yang membunuh Amnon.
b. 1Raja-Raja 1:6 – Raja Daud sudah tua dan akan meninggal dunia; Adonia ingin menjadi raja lalu melakukan hal yang tidak berkenan dan kurang ajar (baca ayat ke 5) – karena Absalom dan Amnon sudah tiada.
Sampai nabi Nathan yang harus menasihati Batsyeba untuk memberi tahu Daud bahwa Salomo lah yang sudah dinyatakan untuk menjadi raja. Tapi Daud membiarkan Adonia melakukan hal itu.
Akhirnya perang saudara terjadi lagi dan akhirnya Salomo harus membunuh Adonia.
Daud salah karena tidak tegas dan mendisplinkan anaknya ketika salah.
4 Kemungkinan menjadi orang tua
a. Pemanja (kasih banyak, disiplin sedikit)- Kasih yang terlalu banyak, tanpa disiplin.
Kalau kita saat ini sudah manja, jangan lah menyalahkan orang tua dan mulai untuk belajar.
b. Penyia-nyia (kasih sedikit, disiplin sedikit)
Orang tua yang tidak punya waktu untuk anaknya; hanya memberikan uang tapi tidak memberikan nilai hidup yang baik untuk anak-anaknya.
c. Pemaksa (kasih sedikit, disiplin banyak)
Umumnya anak-anak yang akan menjadi pemberontak pada akhirnya
d. Pemimpin (100% kasih, 100% disiplin)
Ini lah yang terbaik sebagai orang tua. Sama seperti Tuhan, Dia mengasihi dan juga mendiplinkan kita sebagai anak-anakNya.
Kita harus menjadi orang tua “Pemimpin”, yang tahu kapan harus mengasihi dan kapan harus mendisplinkan anak! Ini lah yang harusnya menjadi tujuan kita.
Apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa mendisiplinkan anak tanpa melukai hati anak?
[1] Strengthen your relationship
Hubungan dengan anak harus diperdekat, dikuatkan setiap hari. Relasi mempengaruhi sampai sejauh mana kita bersikap.
Lihat Ibrani 12:6 – mengasihi + disiplin. In general saat berteman, saat kita tidak dekat, kita tidak akan bisa memberi kritikan (karena akan jadi masalah dan tersinggung). Sama halnya dengan anak. Kalau hubungan jauh dengan anak (tidak pernah kasih waktu) dan selalu orang tua berkata tidak/mendisplinkan, maka akan ada masalah!
[2] Be wise on how you give advice or discipline
Waktu kita tegas pada anak, kita harus hati-hati karena Kolose berkata jangan sampai kita menyakiti hati anak.
H. Norman Wright berkata: “Cara anda menyampaikan bimbingan yang benar akan mempengaruhi bagaimana anak anda menerimanya”. Cara kita memberikan nasihat, masukan kepada anak (atau teman, atau siapa saja), akan punya pengaruh apakah itu diterima atau tidak!
Janganlah jemu-jemu untuk membangun anak kita dan menasihatinya. Dan penting untuk konsisten dan tidak mudah menyerah, untuk terus mendidik anak-anak, karena Tuhan tidak pernah menyerah untuk mengasihi dan mendidik anak-anakNya!
[3] Be example
Menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari. Timotius disuruh memberikan teladan biarpun dia masih muda.
Anak-anak mungkin tidak mendengarkan nasihat kita, tapi mereka akan meniru karakter, sikap, dan gaya hidup kita! Ini lah yang sebenarnya menakutkan kita karena mereka akan meniru apa pun, biarpun itu hal yang negatif.
Coba lihat diri kita saat ini dan juga orang tua kita. Seberapa jauh kita meniru orang tua kita yang sudah bersama kita bertahun-tahun? Baik positif maupun negatif. Tapi janganlah menyalahkan orang tua pada saat ini, tapi fokuslah pada kelemahan yang harus kau ubah! Karena kalau tidak, nanti kau pun bisa mempengaruhi anak-anak mu di kemudian hari.
Menjadi seorang ayah adalah suatu kesempatan yang mulia. Tapi di tengah kesempatan yang besar ini, ada juga resikonya. Karena itu marilah kita bangkit dan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak dan keluarga kita!

