Learning from the life of Tabitha

  


in the streets of helsinki
gari.baldi / Foter / CC BY-NC-ND

Pdt Victor Liu
Ringkasan khotbah 25 Agustus 2013

Gaya hidup tidak pernah diberikan, tapi pilihan dan keputusan dari seseorang. Dan gaya hidup bisa berkenan atau melawan prinsip Tuhan. Sering kita punya tujuan yang baik, untuk memuliakan Tuhan sebagai anakNya, tapi sedihnya, sering kita pada akhirnya punya gaya hidup yang tidak mencerminkan tujuan kita.

Gaya hidup harus kita buat, bukan turun dari langit!

Kisah Para Rasul 9:36-43
Belajar dari Tabita (Dorkas) yang hidupnya menjadi berkat bagi banyak orang, dipakai Tuhan, dan juga dibangkitkan dari kematian oleh Petrus. Hanya beberapa orang yang tercatat di Injil yang dibangkitkan dari kematian.

Ada tekanan melalui kejadian ini dimana manusia yang mati karena dosa bisa dibangkitkan melalui kuasa injil Yesus Kristus, yang berkuasa atas dosa dan maut (di bagian berikutnya ada orang lumpuh yang dijamah dan disembuhkan Tuhan). Dorkas menjadi berkat di saat dia hidup dan bahkan di saat dia meninggal.

Tidak dijelaskan apakah Dorkas cantik atau kaya, tapi ada kemungkinan bahwa dia seorang pengusaha (dari segi nama). Tidak juga dijelaskan apakah dia sudah menikah, atau janda – tapi yang pasti adalah dia memperhatikan kebutuhan orang lain; para janda-janda

Belajar gaya hidup Dorkas; A blessing lifestyle

[1] Mengikuti Tuhan dengan segenap hati
Ayat 36 – “seorang murid”; Istilah murid Kristus dahulu adalah “orang kudus”, suatu istilah yang menunjukkan orang yang percaya dan taat pada ajaranNya.

Apa kriteria seorang murid?
a. A believer – Seorang percaya
b. A learner – Seorang yang selalu belajar firman Tuhan. Selalu punya attitude dan desire untuk belajar. Belajar tidak tergantung usia, keadaan, perasaan kita – itu tergantung dari attitude!
c. A commit – Seorang yang mau bayar harga; yang mau memikul salib untuk Kristus

[2] Suka berbuat baik
Ayat 36 “…perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah”
Dalam bahasa aslinya, bentuk kata kerja nya adalah suatu bentuk kebiasaan, gaya hidup yang sudah sulit untuk diubah. Kebiasaan dibuat bertahun-tahun, terus menerus.

Dari bentuk umum: berbuat baik ke bentuk khusus: memberi sedekah
Kita dipanggil untuk berbuat baik setelah diselamatkan oleh Tuhan; berbuat baik bukan untuk menyelamatkan – kita hanya diselamatkan oleh anugerah Tuhan yang diberikan olehNya (Efesus 2:8-10, Matius 5:16)

Tabita memberi sedekah (charity) – eleemosune: asal katanya dari eleos/mercy: kindness or good will towards the miserable and the afflicted, joined with a desire to help them. Dia memperhatikan janda-janda dan membuat pakaian.

[3] Melayani dengan apa yang bisa dilakukan
Tabita bukan seorang pengajar hebat atau penginjil, tapi dia bisa melayani melalui apa yang dia bisa lakukan. Kita tidak bisa melakukan semuanya, tapi kita bisa melakukan satu hal saja untuk Tuhan, yang kita punyai.

Tuhan tidak pernah menuntut apa yang kita tidak punya, tapi yang kita punya dan bisa lakukan! Jangan pernah merendahkan apa yang Tuhan sudah beri pada kita. Itu adalah spesial buat kita, dan kita bisa memakainya untuk kemuliaan Tuhan yang tidak bisa kita pikirkan.

Tabita “hanya” bisa membuat baju dan dengan suka cita + suka rela, dia melakukannya dan menolong janda-janda yang miskin dan butuh pertolongan.

Bagaimana dengan hidupmu? Apa gaya hidup yang kau pilih dan putuskan sekarang? Apakah seperti Tabita? Ataukah dihabiskan untuk kepuasan dan kepentingan sendiri?

Post a comment

X