Keunggulan Injil

  


Pdt Victor Liu
Ringkasan khotbah 30 Oktober 2022
Markus 2:18-22

Yesus Kristus mengajarkan hal yang berbeda  yang dipercayai orang-orang Farisi dan tokoh agama waktu itu. Karena itu timbul pertentangan-pertentangan antara mereka seperti Yesus mengklaim Dia berkuasa atas pengampunan dosa, dan berteman dengan orang-orang berdosa.

Dalam perjanjian lama, orang-orang Israel diampuni dosa nya dengan memberikan korban setahun sekali pada Allah (bukan karena perbuatan mereka). Tapi orang Farisi menambahkan ini dengan perbuatan-perbuatan baik mereka menjadi bagian keselamatan mereka. Karena itu soal doa, sedekah, dan puasa dilakukan orang-orang Farisi di depan umum untuk mendapatkan pujian dari manusia supaya dianggap baik dan benar.

Karena itu konsep puasa mereka berbeda dengan apa yang Yesus ajarkan.

Kitab Yesaya mengajarkan konsep puasa untuk merefleksikan diri atas dosa-dosa kepada Tuhan. Banyak orang bingung mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa, termasuk murid Yohanes Pembaptis (dalam kitab Matius).

Jawaban Tuhan Yesus: Konsep pengantin laki-laki (ayat 19-20)

Dalam perjanjian lama, mempelai laki-laki adalah YAHWEH (Allah) dan menunjukkan bahwa Allah dalam perjanjian lama adalah diri Yesus (Yesus mengklaim diriNya secara tidak langsung bahwa Dia sama dengan YAHWEH).

Yesus memberi tahu kalau mereka tidak perlu berpuasa saat mereka sedang bersuka cita karena ada Kristus di sana (karena memang konsep orang Farisi soal puasa waktu itu salah, untuk self-righteousness).

Markus juga menjelaskan dimana nanti Yesus akan mati sebagai klimaks, menjadi korban untuk penebus dosa dan nanti pada saat itu lah mereka berpuasa. Puasa dalam konsep perjanjian baru dan kacamata Kristus tidak menambahkan keselamatan atau mendapat God’s favour, tapi bagian dari iman kita.

Yesus berpuasa sebelum dicobai, sebelum memilih 12 rasul; para murid juga berpuasa sebelum diutus, dan banyak dari kegiatan lainnya untuk mengingatkan kita kepada Tuhan dan peka pada suara Tuhan.

Berpuasalah saat kita mencari kehendak Tuhan. Berpuasalah saat kita rindu Tuhan campur tangan dalam sebuah perayaan. Berpuasalah saat kita mencari tempat baru atau pekerjaan baru. Berpuasalah saat kita bergumul dalam sebuah dosa dan sudah lelah. Kita berpuasa dan fokus pada Tuhan; membaca firman, berdoa, lebih dekat pada Tuhan.

Yesus datang dengan konsep keselamatan yang baru (ayat 21-22); tidak bisa dicampur dan ditambahkan:
a. Ayat 21: tentang kain
Kalau kain lama robek, tidak bisa menambal nya dengan kain baru karena nanti akan merobek kain lama saat dicuci. Orang Farisi ingin menambah-nambahkan supaya bisa menyombongkan diri

b. Ayat 22: tentang anggur
Kantung anggur waktu itu dari kulit; Semakin kantung kulit makin tua, semakin kaku dan mudah pecah. Kalau anggur baru dimasukkan ke kantung kaku dan keras ini, fermentasi anggur baru akan memecahkan kantung kulit tersebut. Karena itu anggur baru perlu dimasukkan ke dalam kantung kulit yang baru.

Yesus ingin menggambarkan bahwa Dia lah Anggur yang baru tersebut. The Gospel of Jesus Christ yang penuh anugerah tidak bisa dicampur adukkan dengan konsep keselamatan dunia – dengan perbuatan baik dan self-righteousness dari manusia!

Dan kita bisa melihat gereja-gereja mula mula seperti di Galatia dan beberapa gereja tentang kaburnya konsep keselamatan (e.g harus mengikuti perayaan-perayaan, harus disunat, dan sebagainya).

Yesus tidak lagi mengajarkan harus ada persembahan domba, korban setiap tahun untuk menghapus dosa manusia, tapi diriNya yang datang sebagai domba Allah yang menjadi korban untuk menghapus dosa manusia! Dia lah Imam Besar kita, tidak perlu lagi ada imam besar yang masuk ke ruang Maha Suci untuk mempersembahkan korban. Dan kita mendapatkan keselamatan saat kita percaya pada Anak Domba Allah, Yesus Kristus, yang sudah berkorban menghapus dosa kita ini!

Dan prinsip ini mengejutkan banyak tokoh agama waktu itu, yang memfokuskan hidup mereka pada self-righteousness, salvation by works.

Bagi kita yang berlatar belakang orang Tionghoa, kita mempunyai banyak tradisi-tradisi yang bertentangan dengan iman kekristenan kita. Dan kita bergumul.

Ada juga mungkin adat-adat dari sebuah suku sebelum kita menyerahkan hidup kita pada Tuhan (yang bertentangan dengan kekristenan), dan kita masih bergumul untuk masih melakukannya.

Banyak lagi contoh-contoh lainnya yang mungkin kita alami dan gumulkan saat ini. Apakah kita melakukannya selama kita suka melakukannya? Atau kita mengingat pengorbanan Kristus untuk kita? Self-gratification membuat kita mudah untuk ambil jalan pintas; penerimaan orang, self-happiness, dan sebagainya.

Bagaimana dengan relasi kita satu sama lain? Kita masih sering mempunyai konsep lama: “Kalau dia baik, saya baik, dan sebagainya”. Padahal Yesus mengajarkan hal yang berbeda, kasih yang unconditional. Apa kita masih seperti itu?

Saat mencari jodoh, apakah kita mengandalkan/mencari Tuhan dan ingat akan prinsip-prinsip firman Tuhan? Dan sebagainya.

 

Post a comment

X