Kasih yang sejati

  


No matter it is Valentine or not !
HAMED MASOUMI / People Photos / CC BY-NC-ND

Pdt Victor Liu
Ringkasan khotbah 17 Februari 2013

Setiap Valentine’s Day, pasangan-pasangan umumnya saling menyampaikan rasa cinta dan kasih nya satu sama lain.

Cinta perlu dinyatakan dan dibuktikan. Kalau engkau mengasihi seseorang, orang tersebut seharusnya bisa merasakan dan melihat apakah engkau sungguh-sungguh mengasihi dia. Sering saat orang meninggal dan dikubur, keluarga dan orang terdekat mengatakan hal-hal yang baik dan positif tentang orang yang meninggal itu. Kadang membuat kita berpikir, apakah mereka pernah mengatakan dan menyampaikannya pada orang itu sewaktu dia masih hidup? Bagaimana dengan kita? Apakah kita sering menyampaikan rasa cinta kita pada orang-orang yang kita cintai?

Baca Yohanes 21:15-22

Pertanyaan yang Yesus ajukan kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?”, diajukan 3 kali, mengingatkan kita pada suatu kejadian dimana Petrus pernah menyangkal Yesus 3 kali. Padahal dengan sombongnya dia berkata sebelumnya, bahwa dia akan selalu setia pada Yesus.

Pertanyaan ini diberikan Yesus bukan untuk menghakimi atau mencemooh Petrus, tapi pertanyaan yang akan membangun dan membangkitkan semangat Petrus. Supaya dia bisa evaluasi diri. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling penting dalam hidup kita. Siapa yang kita kasihi/yang kita pentingkan dalam hidup ini, maka hati kita akan terpengaruh dengan hal tersebut.

Jawaban Petrus kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya, dengan kerendahan hati. Penafsir menafsirkan pertanyaan Yesus (ayat 15) “apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” adalah pertanyaan apakah Petrus merasa dia mengasihi Yesus lebih besar daripada murid-murid yang lainnya mengasihi Yesus (di sebelumnya, Petrus sombong dan merasa dia yang paling mengasihi Yesus dan setia daripada murid-murid lain). Dan kita bisa lihat jawaban Petrus tidak lagi sombong seperti sebelum-sebelumnya.

Kasih yang sejati

[1] Mengikuti apa yang kita kasihi mau

Yesus mau Petrus membuktikan kasih Petrus kepada Yesus, dengan menggembalakan domba-dombaNya (kalau dulu Petrus selalu cepat berbicara). Apa yang Yesus kasihi dan pelihara (manusia), Petrus pun harus mengasihi dan memelihara.
Jadi bukti kasih yang sejati pada Yesus adalah kita melakukan apa yang Yesus mau dan lakukan! Kita cenderung akan sama atau mirip dengan orang yang kita cintai, demikian pula dengan Yesus Kristus

[2] Melayani dengan kesungguhan hati

Love mendorong kita untuk service, melayani.

Kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kita akan mau melayani Dia. Kita mau bergabung bersama-sama di sebuah gereja untuk mengasihi dan melayani Tuhan dengan segenap hati kita. Melayani Tuhan berarti juga melayani sesama yang kelihatan, karena Tuhan mengasihi manusia, yang akhirnya mempengaruhi hati dan behavior kita

[3] Ada pengorbanan dan total submission

Kasih yang sejati pada Kristus bukan hanya melayani dengan kesungguhan hati pada Tuhan dan sesama, tetapi juga melayani dengan penuh pengorbanan dan total submission.
Ketika kita ambil bagian pelayanan, tidak bisa tidak ada pengorbanan (butuh komitmen, waktu, tenaga, dan sebagainya). Tanpa pengorbanan, kita akan asal-asalan dan hanya melakukan apa yang kita suka! Petrus mendedikasikan hidupnya sampai dia akhirnya ditangkap dan mati disalibkan untuk Yesus.

Apa yang Tuhan rencanakan pada pelayan-pelayan yang lain, bukan urusan kita. Urusan kita hanyalah ikut Tuhan secara pribadi, tidak membanding-bandingkan dengan hidup orang lain (ayat 22).

Do you love Jesus?

Post a comment

X