Hidup dalam waktu yang ditentukan Tuhan (Pengkotbah 3:1-15)

  


Seri Berjalan bersama Yesus
Ringkasan khotbah 10 Januari 2021

Harapan dan ekspektasi yang berlebihan umumnya akan membuat kita kecewa. Apakah ekspektasi kita di tahun yang baru ini realistik? Karena banyak orang yang punya ekspektasi tinggi di tahun ini, berharap akan lebih baik daripada tahun 2020, sebuah tahun yang amat sulit dengan pandemi COVID-19.

Baca Pengkhotbah 3:1-15.

Sang pengkhotbah mengamati kehidupan di bawah langit dan memberikan kesimpulannya dalam ayat pertama. Lalu dia memberikan 14 ayat ilustrasi yang terjadi di bawah kolong langit; satu pasang satu pasang, dan selalu kontradiksi satu dengan yang lain.

Kita biasanya menyukai yang satu, dan tidak menyukai yang lain. Tapi kedua nya terjadi dalam dunia di mana kita hidup, suka atau tidak. Dan kita tidak bisa memilih-milih hal yang tidak kita inginkan, dan bahkan mengatur kapan itu terjadi.

Dunia mengajarkan kita bisa menjadi master atas hidup kita, memanipulasi situasi supaya kita bisa mendapatkan apa yang kita maui. Bahkan teknologi biasanya dipakai untuk mengontrol situasi supaya membuat kita nyaman, atau memperpanjang hidup manusia.

Pada kenyataannya, kita punya kontrol yang terbatas di dunia ini (saat naik pesawat, pandemi COVID-19, dan sebagainya). Kehidupan ini sangatlah kompleks dan kita tidak akan pernah bisa mengontrolnya. Kita hanya merasa kita bisa mengontrolnya. – tapi pada ujungnya kita akan kecewa, dan merasa lelah.

Atau pada akhirnya, kita akan merasakan kepahitan dengan orang lain, dan bahkan pada Tuhan.

Ayat Pengkhotbah 3:11a sering di salah artikan bahwa pada akhirnya masalah kita akan berlalu, atau akan berhasil pada akhirnya.

Padahal arti yang sebenarnya adalah tepat pada waktu itu seharusnya terjadi (pas), pada waktu yang Tuhan tentukan. ”He has made everything appropriate in its time” (CSB). Seperti sebuah rajutan (tapestry) dengan benang-benang pada tempat nya yang pas (warna benang, dan sebagainya).

Dan manusia yang terbatas tidak akan pernah bisa menyelami rencana dan waktu Tuhan secara keseluruhan dari awal sampai akhir, walaupun kita bisa menyelami sejarah/masa lalu dan memprediksi masa depan (Pengkhotbah 3:11).

Kita sering menebak-nebak apa yang ingin Tuhan lakukan melalui hal-hal yang terjadi, namun kita tidak akan pernah tahu mengapa. Kita hanya tahu Roma 8:28, tapi lebih dari itu, kita tidak bisa melihat yang lebih spesifik.

Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Lihat ayat 14 -> supaya manusia takut akan Tuhan; supaya di tengah masa putus asa dan frustrasi, kita bisa datang kepada Dia dengan rasa takut. Kita bisa menghormati dan menghargai Tuhan, menerima keterbatasan kita sebagai manusia yang diciptakan Tuhan. Kita memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan.

Takut akan Tuhan membuat kita:

[1] Mempercayai Tuhan

Bagi kita yang suka mengontrol situasi, di balik semuanya ada suatu kepercayaan bahwa orang yang bisa dipercayai hanyalah diri kita. Dan satu-satunya jalan untuk keluar dari belenggu ini adalah dengan takut akan Tuhan; percaya pada pimpinan Tuhan.

[2] Bersuka cita menikmati pemberian Allah (ayat 12-13)

Ini bukanlah rekomendasi untuk mengejar kenikmatan dunia, tapi saat kita tidak lagi hidup dimana kita selalu merasa di dalam kontrol, kita akan bisa menikmati hidup ini sebagai pemeberian dari Tuhan.

Sehingga kita bisa fokus hidup dengan hati yang penuh suka cita dan rasa syukur.

X