Hidup dalam kemunafikan

  


Seri Walking with Jesus
Adrian Kencana
Ringkasan khotbah 31 Januari 2020

Kita sering merasa kecewa saat melihat seorang hamba Tuhan hidup dalam kemunafikan, atau melakukan dosa yang ketahuan orang. Kita marah, merasa terkhianati!

Tapi kenapa kita merasa marah?
a. Mungkin Karena kita ingat pengalaman lalu kita saat dikhianati orang, atau dikecewakan orang. Bahkan mungkin keluarga kita sendiri yang menyakiti hati kita.
b. Mungkin karena kemunafikan ini akan berdampak besar dan menghancurkan kesaksian hidup anak Tuhan. Kemunafikan bisa menghalangi orang untuk datang ke gereja dan mengenal Kristus yang sebenarnya.
c. Mungkin karena cerita kemunafikan ini membuat kita tidak nyaman; karena seperti cermin dimana-mana kita harus mengintrospeksi diri sendiri, diingatkan untuk memeriksa kemunafikan hidup kita sendiri.

Baca Lukas 12:1-3.

Yesus berkata ”Waspadalah”,  berarti ada bahaya, kita pun bisa terjebak atau tergoda. Waspada apa? Terhadap “ragi” -> dipakai untuk mengembangkan adonan untuk naik, memulai proses fermentasi. Ragi dipakai sebagai gambaran kemunafikan karena menggambarkan sesuatu yang sebenarnya kecil, tapi diam-diam menyebar/berkembang;

Ini berarti Yesus tahu hati kita sangat rentan terhadap kemunafikan, gampang menjadi munafik. Kita sering menujuk orang lain munafik, tapi Yesus berkata, waspadalah bahwa kita bisa jadi munafik!

Kemunafikan macam apa yang Yesus kecam di sini?
Sebelum pasal 12, Yesus baru saja mengecam kemunafikan orang Farisi dan ahli Taurat (lihat juga Matius 23): perbuatan dan perkataannya tidak konsisten/sama, melakukan kebaikan untuk dilihat orang & mendapatkan pujian, suka dihormati dan dipanggil dengan title, suka memperhatikan hal-hal yang kecil, fokus penampilan luar yang baik & rohani tapi hati nya busuk dan kosong, perilaku tidak konsisten (tergantung situasi), dan punya standard yang berbeda-beda (standar tinggi pada orang lain, tapi punya alasan membela diri).

”Daftar” ini adalah untuk diri kita juga, apakah hati kita seperti ciri-ciri ini? Bentuk kemunafikan berbeda-beda, tetapi ada satu kesamaan – yaitu keinginan untuk melihat diri kita lebih baik dari sesungguhnya, atau dari orang lain.

Kemunafikan adalah jangka pendek, karena pada suatu hari kita akan berhadapan dengan Tuhan dan mempertanggung jawabkan semua yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan! Baca juga Roma 2:16.

Hati-hatilah, karena kita akan menghadap Allah yang Maha Suci dan Maha Tahu!

Kalau kita sungguh-sungguh melihat diri kita, maka yakinlah kita adalah orang yang munafik, yang mungkin jatuh lagi dan jatuh lagi. Kita akan tahu kebobrokan kita, dan kita seharusnya gemetar melihat kenyataan ini. Celakalah kita!

Allah kita bukan hanya Allah yang Maha Suci dan Maha Tahu, tapi Dia juga Allah Maha Kasih dan Pengampun! Di tengah kita tenggelam dalam laut kemunafikan, Dia sudah mengasihi dan mengirimkan Yesus Kristus untuk memikul beban dan dosa penghukuman kita! Lihat Roma 5:8.

Suatu anugerah yang begitu besar, damai yang tidak terbandingkan dengan apa pun juga! Injil Kristus bukan hanya teori yang di pikiran kita, tapi menjadi hidup.

Kita diselamatkan oleh kasih karunia, tapi kasih karunia bukan lah hal yang murah dan abal-abal! Jadi jangan lah kita biarkan kemunafikan kita terus bercokol dalam hidup kita!

Selama kita terus tinggal dalam firmanNya dan sadar kita perlu accountability dari saudara-saudara kita di dalam Kristus, maka kita bisa. (Ibrani 3:13, Ibrani 10:24-25)

 

 

 

X