Heart of Compassion

  


Helping the homeless
Ed Yourdon / Foter / CC BY-SA

Pdt Victor Liu
Ringkasan khotbah 18 Agustus 2013

Heart of Compassion – belas kasihan
Kekristenan kita tidak akan pernah menjadi dewasa saat kita tidak lagi mempunyai hati yang penuh belas kasihan.

Baca Lukas 10:25-37
Yesus dalam Lukas 10:25-11:13 ingin mengajarkan 3 topik yang erat satu dengan yang lainnya:
– Relasi dengan sesama (Lukas 10:25-37)
– Relasi dengan Yesus (cerita Maria dan Martha – Lukas 10:38-42)
– Relasi dengan Bapa melalui doa (Lukas 11:1-13)

Seorang ahli Taurat umumnya sudah dipilih dan diakui sebagai ahli hukum, yang hafal dan mengerti benar tentang firman Tuhan.

Perhatikan bahwa Yesus tidak menjawab dia secara langsung, tapi malahan bertanya kembali. Yesus mengutip dari Ulangan 6:5 dan juga di Imamat 18:5, yang tentunya sudah diketahui oleh ahli Taurat ini. Yesus mau menunjukkan bahwa apa yang harus dia lakukan (jawaban di ayat 27) tidak akan bisa dilakukannya! (karena itulah butuh karunia Tuhan melalui Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia)

“Neighbor” (sesamamu) – Yunani: plesion – one who is near (Contoh Kis 7:27 ketika Stefanus bercerita tentang Musa yang ingin menolong temannya orang Yahudi yang bertengkar).
Dalam bahasa Ibrani, rea, berarti: a person with whom one has something to do (mempunyai hubungan untuk melakukan sesuatu)
Ahli hukum Yahudi menafsirkan “neighbor” menafsirkan sebagai sesama Yahudi, sesama ras, sesama komuniti (Orang Samaria tidak termasuk neighbor bagi mereka).

Ahli Taurat ini tahu, dia tidak sanggup melakukan apa yang Tuhan suruh (mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh). Karena itu dia ingin membatasi tuntutan kedua (mengasihi sesama) dan membenarkan dirinya kalau dia sudah dan bisa melakukannya. Perhatikan Yesus tidak menjawab secara langsung pertanyaan siapa sesama / neighbor kita – dia ingin menilik dan menunjuk hati apa yang kita punya?

Jarak jalan ini diperkirakan sekitar 17mil (sekitar 27km) jauhnya dari Yerikho ke Yerusalem dan jalan ini memang terkenal berbahaya pada saat itu.
Imam – orang yang bertugas di bait Allah, untuk mengurusi persembahan, membantu imam besar (dianggap lebih rohani/tinggi dari orang Lewi)
Orang Lewi – bekerja/melayani di bait Allah juga, banyak jumlahnya

Waktu Yesus bercerita, hal-hal ini adalah biasa; bahwa Imam dan orang Lewi sering lewat sana dari pelayanan, dll. Yang tidak biasa adalah bahwa Yesus memberikan seorang penolong yang diluar pikiran ahli Taurat ini.

Pada ayat 31 (dan 32), sengaja hal ini ditulis.
“Kebetulan…” – tiba-tiba dan juga “..melewatinya..” (bukan tiba-tiba/kebetulan. Suatu kegiatan yang sengaja dilakukannya).

Lalu mengapa orang-orang yang harusnya dekat dengan Tuhan ini tidak punya hati yang compassionate? Mengapa tidak ada yang mau menolong?

[1] Konsep Tuhan tidak mengubah hati dan sikap mereka
Orang-orang ini adalah orang-orang yang selalu ada di bait Allah, yang tahu tentang firman Tuhan. Tapi menyedihkan bahwa pengetahuan tentang Tuhan ini tidak mengubah hati dan hidup mereka.
Mengikut Yesus seharusnya mengubah pandangan kita!

Ahli Taurat ini membatasi hubungan antara Tuhan dengan manusia; pengetahuan dia tentang Tuhan terpisah, karena itu dia hanya fokus pada pertanyaan keduanya, tentang “neighbor”nya. Seharusnya kasih kita akan Allah dan pengetahuan kita akan Allah, menolong dan mengubah prinsip hidup kita!

Contoh: Paulus memerintahkan suami untuk mengasihi istri, sama seperti Tuhan mengasihi. Sama halnya dengan istri yang harus tunduk pada suami sama seperti kita yang harus tunduk pada Tuhan sebagai kepala jemaat. Pengetahuan tentang Tuhan dan firmanNya, harusnya mengubah dan mengoreksi hidup kita! Kematian rohani akan terjadi saat kita memisahkan firman/pengetahuan Tuhan dan kehidupan kita!

[2] Punya konsep yang salah dalam melayani (hanya kegiatan rutinitas)
Hanya melakukan, tapi tidak ada hati yang berubah. Motivasi yang salah pada saat melayani. Sering di saat melayani, kita dilihat orang dan bisa pada akhirnya kita malah punya motivasi untuk dipuji dan dilihat oleh orang.

Saat kita melayani Tuhan, kita pun juga melayani sesama! Seharusnya kemuliaan Tuhan terlihat dan terpancar pada orang lain di saat kita setia melayani, di saat kita fokus kepada Tuhan. Yang menyedihkan adalah pada saat orang sudah tidak punya compassion lagi dalam hati mereka tapi masuk dalam pelayanan pada Tuhan!

[3] Kesibukan dapat meniadakan/membunuh relasi dan kasih
Saat kita sibuk, kita tidak ada waktu untuk berdoa dan menjaga hubungan kita pada Tuhan. Saat sibuk, kita sering tidak ada waktu untuk orang lain. Betapa bahaya di saat kita sibuk tapi tidak punya prioritas yang benar.

Saat kita sibuk bekerja, sibuk belajar, sibuk pelayanan – kita akhirnya memberikan semua energi kita pada kesibukan itu; bukan kepada Tuhan, dan bukan kepada orang. Sering relasi kita satu sama lain menjadi renggang karena kita tidak pernah punya waktu lagi untuk mereka. Pada akhirnya kita bisa punya hati yang cuek, yang fokus pada diri sendiri.

[4]Tidak mempunyai belas kasihan
Perhatikan ayat 33, Yesus mengkontraskan dengan orang Samaria yang “tergerak hatinya oleh belas kasihan”. Suatu hal yang tidak dipunyai dua orang sebelumnya.

Orang Samaria, yang tidak dianggap sebagai neighbor oleh orang Yahudi, yang kawin campur dan diasingkan orang Yahudi, malah dijadikan seorang pahlawan oleh Yesus.

Apa arti compassion/belas kasihan? Dalam konteks ini adalah sebuah investment dengan menggunakan resources yang kita punyai, untuk menolong orang lain. Sangat berbahaya di saat seorang suami/istri, pacar, atau teman yang tidak punya rasa belas kasihan!

Orang macam apakah kita? Hati seperti apa yang kita punya?

 

Post a comment

X