Grow – Be careful with your response

  


A Tree in the Snow

Stuck in Customs / Foter

Grow Series – Part II
Pdt Victor Liu
Ringkasan khotbah 12 Agustus 2012

Sering kita lupa bahwa tanggapan kita sangatlah penting dalam hidup ini, apalagi pada saat-saat genting. Kita perlu hikmat untuk mengontrol tanggapan kita. Response kita menunjukkan kedewasaan kita, apakah kita orang yang bertumbuh atau tidak.

Respon-respon saat kita dikritik, diberi masukkan oleh teman/partner, dan sebagainya. Saat kita mengalami kegagalan, bagaimana respon kita? Di saat kita menanti sesuatu, bagaimana respon kita?

Baca kitab Ayub 1, khususnya 1-3, 1:20-22, 2:7-10

RESPON MENUNJUKKAN SIAPA DIRI KITA, IMAN KITA, PERTUMBUHAN KITA, DAN KEDEWASAAN KITA
Respon menunjukkan pertumbuhan kita tapi pertumbuhan kita pun juga akan mencerminkan respon kita! Lihat bahwa Ayub punya respon yang baik dan menunjukkan kedewasaan Ayub. Perhatikan juga bahwa istri Ayub punya respon yang jauh berbeda dengan Ayub. Dilihat dari jumlah anak-anaknya, kita bisa menarik kesimpulan bahwa Ayub dengan istrinya sudah lama menikah.

Salah satu aspek pertumbuhan kita adalah iman kita. Iman yang bertumbuh, apa yang kita percayai tentang Tuhan, akan terlihat dari respon kita. Kalau kita ingin tahu siapa diri kita, perhatikan semua respon kita dalam satu hari (respon kita saat menunggu kendaraan umum, saat di kantor/sekolah, saat berinteraksi dengan teman, dll). Dari respon kita itulah kita bisa tahu bahwa kita orang yang cerewet, cepat marah, malas, atau apa pun juga!

Problemnya, banyak orang mau berubah dan bertumbuh, tapi mereka tidak mau memperhatikan dirinya sungguh-sungguh saat merefleksikan respon mereka. Contohnya di relationship, kalau setiap ada masalah tidak pernah bisa diselesaikan dengan baik, maka kita seharusnya sudah tau apa yang akan terjadi, dan seharusnya kita mengubahnya.

Kedewasaan tidak tergantung pada umur atau lamanya kita ikut Tuhan.

Ayub kehilangan harta bendanya, tempat mata pencahariannya, anak-anaknya, dan kesehatannya. Ketiga temannya yang datang sampai tidak mengenalinya dan berkabung selama seminggu, menunjukkan betapa susahnya dan mengerikannya penderitaan Ayub.
Mungkin kita tidak sampai seperti Ayub (mungkin tidak ada orang yang pernah menderita separah Ayub) tapi kita pasti pernah mengalami kegagalan (ditolak saat melamar pekerjaan, ditolak cintanya, bisnis yang gagal, mimpi yang belum menjadi kenyataan, dan sebagainya). Apa respon kita selama ini?

Respon Ayub yang berbeda dengan istrinya, menunjukkan pertumbuhan dan kedewasaan Ayub!

Respon Ayub vs Istrinya

1. Kesedihan yang wajar (Ayub 1:20)

Ketika ada sesuatu hal yang menimpa kita, wajarlah kalau kita sedih. Kita tidak harus menutupi atau pura-pura kuat. Kesedihan yang wajar dibutuhkan oleh kita, karena Tuhan lah yang memberikan perasaan itu pada kita. Yang jadi masalah adalah saat kesedihan itu menguasai hidup kita sampai mengganggu hidup dan perilaku kita. Sering kita terlalu mengikuti perasaan kita, sehingga kita jadi kepahitan atau memandang sesuatu dengan tidak benar.

Wajar kalau kita sedih, tapi jangan biarkan perasaan itu mengontrol kita sampai kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi dalam hidup ini!

2. Menyembah Tuhan

Perhatikan bahwa Ayub lalu sujud menyembah Tuhan! Susah untuk orang yang hancur hatinya untuk bisa menyembah Tuhan, karena self-pity akan menguasai dia. Ayub berlutut, menyembah, dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Banyak orang di tengah masalah tidak mau berdoa, tidak tertarik untuk mendekat pada Tuhan, kita mau menyendiri, tidak mau ke gereja, dan sebagainya.
Alkitab memberikan prinsip yang begitu indah: mengingat dan menyembah Tuhan.

Saat penantian, saat mengalami kegagalan, respon yang paling benar adalah untuk datang kepada Tuhan! Perasaan kita akan membuat kita untuk tidak mau datang pada Tuhan, dan kita harus melawannya! Dibutuhkan kekuatan dari Tuhan supaya kita diberikan energi yang baru pada saat-saat kritis, untuk menyembah dan ingat pada Tuhan. Kita umumnya konsentrasi dan fokus pada kepedihan yang kita sedang alami, dan tidak ingin memikirkan tentang Tuhan!

3. Mengakui kedaulatan Tuhan

Ayub berkata bahwa Tuhan yang memberi dan Tuhan yang mengambil. Dia sadar bahwa kehidupan dia diijinkan Tuhan dalam kedaulatanNya, dan dibawah kuasaNya!

4. Respon positive

Salah Ayub hanya satu, bahwa dia ingin tahu kenapa ini semua terjadi dalam hidupnya. Tapi selama penderitaannya, dia selalu respon positif, ditengah-tengah kepedihannya.

Akan banyak pertanyaan-pertanyaan yang kita utarakan dalam hidup dan pikiran kita, tapi Ayub membiarkan konsep Tuhan bahwa He is good all the time! Tuhan kasih upah untuk orang-orang seperti ini, kalau tidak sekarang, nanti di masa datang! Tuhan berjanji untuk memberikan reward pada orang-orang yang respon positif dan bergantung pada Tuhan di tengah situasi apa pun juga (tidak selalu dalam bentuk materi).

Responlah yang baik di tengah situasi apa pun juga dan teruslah mencari dan menyembah Tuhan Allah kita!

Post a comment

X