Generous giving is a lifestyle of Christianity

  


In God we trust
kevin dooley / Foter / CC BY

Pdt. Victor Liu
Ringkasan khotbah 14 Juli 2013

Hampir 2000 lebih ayat alkitab berbicara soal uang. 1/3 dari perumpamaan Yesus adalah soal uang. Uang punya pengaruh yang besar dalam hidup kita. Selalu erat hubungan antara penggunaan uang dengan kehidupan kerohanian kita.

Alasan orang tidak memberi: Tidak punya, tidak mau, atau tidak mampu (karena tidak bisa mengatur uang/banyak hutang-hutang lain yang harus dibayar). Yang paling menyedihkan adalah saat tidak mau memberi karena hatinya tidak cinta pada Tuhan, lebih cinta pada diri sendiri atau benda/barang.

Coba refleksikan ini: Apakah lebih mudah bagi kita untuk membeli sesuatu untuk kita pribadi tapi pada saat harus memberikan pengabdian kita pada Tuhan, kita merasa susah sekali? Apakah kita setia memberikan perpuluhan kepada Tuhan kita?

Mungkin ada yang berkata, bahwa perpuluhan itu adalah konsep Perjanjian Lama. Tapi mari kita belajar hari ini bahwa anugerah yang diberikan Tuhan bukanlah sembarangan/murahan.

Dua hal yang kita bisa lihat di Perjanjian Baru:
a. Tuhan ingin pertama-tama hati kita dulu yang diserahkan pada Tuhan secara total
b. Generous giving beyond tithing diajarkan di Perjanjian Baru

Panggilan untuk generous giving:
– Markus 12:41-44 (janda miskin)
– Lukas 19:8-10
– Lukas 8:3
– Lukas 14:33
– Roma 12:1; 1 Korintus 6:19
– 2 Korintus 5:15
– Kis 2:45; 4:34-35
– 2 Korintus 8:2-3
– 2 Korintus 8:9

Baca khususnya Markus 12:41-44. Perhatikan bahwa Yesus tidak menolak apa yang diberikan oleh janda ini (Yesus tidak menolak supaya janda itu bisa hidup dan makan). Sering ayat ini dipakai untuk menyatakan bahwa Tuhan lebih memperhatikan hati kita daripada jumlah (“tidak penting jumlahnya, yang penting hati kita”). Ini salah! Perhatikan bahwa Yesus memperhatikan bahwa janda ini memberikan lebih banyak daripada orang lain. Tekanan dari bagian ini adalah bahwa Yesus tidak menolak pemberian ini dan mengajar bahwa wanita ini harus menjadi teladan! Janda ini tidak memberikan 10%, tapi seluruhnya, sampai dia mungkin tidak akan bisa makan lagi besok.

Semakin sedikit uang kita, semakin berharga uang kita tersebut. Dan Yesus mengetahui jelas hal ini, bahwa janda miskin ini benar-benar serius dalam memberi pengabdian. Zakeus pun juga berubah dan memberi pengabdian dengan konteks uang (Lukas 19:8-10) – bukan untuk mendapatkan keselamatan.

Lukas 8:3 – Yesus dan para murid tidak bekerja; ada wanita-wanita yang memberi pengbadian untuk mereka

Lukas 14:33 – Kepemilikan seseorang harus diserahkan kepada Tuhan; harga seorang murid
Roma 12:1 – Kita memberikan diri kita secara total (semuanya) kepada Tuhan
1 Korintus 6:19 – Tubuh kita adalah milik Tuhan seluruhnya (termasuk tubuh, hati, dan hidup)
2 Korintus 5:15 – Kita hidup untuk Yesus
2 Korintus 8:2-3 – Yesus menyuruh mereka untuk belajar dari jemaat Macedonia; mereka miskin tapi mereka suka cita dan memberi di luar dari apa yang mereka bisa.
2 Korintus 8:9 – Supaya Jemaat Korintus yang kaya tidak materialisme; dengan memberi contoh Yesus yang kaya menjadi miskin
Markus 14:3-9 – Wanita yang memberikan minyak narwastu yang mahal harganya untuk Yesus

Lalu apa yang kita bisa pelajari dari sini? Kalau kita perhatikan dan pelajari dari semua ini, kesimpulannya adalah bahwa mereka semua memberi lebih dari 10%, karena Tuhan mau seluruh hati kita diserahkan pada Dia untuk kerajaan Allah! Bukan kita tidak boleh kaya (karena Daud jadi raja, Abraham kaya, Yusuf kaya, dan lain sebagainya), tapi pada pengbadian kita secara total kepada Tuhan.

Lalu seberapa banyak yang harus kita berikan kepada Tuhan? Semuanya – dalam arti dalam segi penggunaan uang kita juntuk kebutuhan kita (karena uang kita adalah milik Tuhan) dan juga pengabdian kita kepada Tuhan.
Dalam Matius 23:23, Yesus tidak mengatakan bahwa perpuluhan sudah tidak ada lagi, tapi pentingnya belas kasihan dan yang lainnya untuk dilakukan juga. Kalau perpuluhan tidak boleh atau tidak berlaku lagi, maka Yesus pasti akan mengajar dan menentangnya.

Perpuluhan – 10% dari keseluruhan income kita untuk diberikan pada Tuhan.
Kita sering merasa hidup dalam anugerah dan akhirnya kita melakukan sesuatu asal-asalan, semau mau kita.

MENGAPA PERPULUHAN KITA LAKUKAN?

1) MEMULIAKAN TUHAN (Roma 11:36, Mazmur 24:1)

Istilah “honor” diterjemahkan sebagai berat/beban. Jadi semakin kita memberi dengan memuliakan Tuhan, itu adalah dengan ada beban dan pengorbanan.
Abraham memberikan perpuluhan sebagai ucapan syukur, atas kemenangan yang diberikan. Yakub pun berjanji akan memberikan perpuluhan, karena dia menyadari Tuhan adalah milik segalanya. Pada akhirnya di Imamat dan diulang lagi di Ulangan 14:23, menjadi hukum Taurat.

Kita memuliakan Tuhan karena kita memberikan Dia yang terbaik, sesuatu yang “heavy”, ada suatu bobot/nilai berat.

Yang menyedihkan adalah dimana orang-orang Israel selalu diingatkan untuk ingat akan Tuhan, namun pada akhirnya mereka lupa (lihat 2 Raja-Raja, Hakim-Hakim). Hasrat manusia untuk berbuat dosa dan kenikmatan begitu besar sehingga hasrat kita untuk ingat dan memuliakan Tuhan menjadi kecil dan hilang! Uang, bisa membuat kita lupa dan meninggalkan Tuhan.

Generous giving, sacrifice giving pada Tuhan merupakan gaya hidup kita. Mulailah dari sekarang! Jangan pernah kita berkata “Nanti kalau saya sudah kaya” “Nanti kalau saya sudah naik gaji”, dll – karena kemungkinan besar adalah kita tidak akan melakukannya nanti! Selalu ada alasan dan hati kita pun sudah tidak lagi cinta pada Tuhan

2) MENGALAHKAN CINTA PADA UANG (Maleakhi 3:8-10)

Ayat ini mendorong kita untuk memperhatikan secara serius pemberian kita. Maleakhi sedang mengajar bagaimana uang bisa menghancurkan hidup seseorang.
Menipu – sebuah istilah menekan, tanpa sadar. Menunjukkan bahwa orang-orang Israel (bahkan pemimpin-pemimpinnya) sudah tidak lagi menghargai Tuhan dan mereka tidak menyadarinya.

Kebutaan mereka menunjukkan betapa harta benda dan kekayaan punya power untuk menutupi segala sesuatu. Kalau kita berzinah atau melakukan dosa lain, kita tahu! Tapi sering pada saat soal pengabdian, soal uang, kita tidak tahu/tidak sadar karena sudah dipikat olehnya!

3) KITA PERCAYA BAHWA TUHAN SANGGUP MEMENUHI KEBUTUHAN KITA

Alkitab selalu mengajarkan bahwa kita tidak boleh menguji Tuhan, tapi khususnya di ayat ini, berbeda! “Ujilah Aku”! Filipi 4:19 pun juga memberikan penghiburan dan kekuatan yang sama!

Sudahkah kita memberikan perpuluhan dan pengabdian kita kepada Tuhan? Periksalah hati kita

Download (Right click and Save As)

Post a comment

X