Berdoa sebagai gaya hidup kita

  


Pdt Victor Liu
Ringkasan khotbah 15 November 2020

Lihat ayat-ayat ini:
1Tes 5:17 (“Jangan berhenti untuk berdoa”), Kol 4:2 (“Bertekunlah dalam berdoa” – 2 ayat ini merupakan kalimat perintah, apa pun kondisi dan situasi kita taat); Ef 6:18 (“Berdoalah, bentuk kata kerjanya participle yg bisa diterjemahkan praying, setiap waktu” – “kairos, waktu”-> di setiap kesempatan, dimana saja, kapan saja). Waktu kata kerjanya dari 3 ayat ini memakai bentuk sekarang, present, now– menunjuk bahwa kata kerja itu haruslah menjadi kebiasaan, habit, gaya hidup kita.

Alistair Begg has written, “In our Christian lives, nothing is more important and nothing more difficult to maintain than a meaningful prayer life.”

Kita sering berdoa hanya ketika kita mendapatkan masalah, atau ingin meminta sesuatu pada Tuhan (seperti pekerjaan, dan sebagainya). Padahal bukan begitu yang dilakukan jemaat mula-mula. Mereka mengerti pentingnya berdoa dan saling mendoakan satu sama lain di setiap waktu.

Kalau kita tidak berdoa, itu menunjukkan betapa kita tidak melihat pentingnya untuk berdoa, atau malah jangan-jangan kita sebenarnya belum mengenal Kristus.

Berdoa membawa kita pada keintiman hubungan dengan Tuhan & menunjukkan kebutuhan dan ketergantungan kita padaNya. Kita harus kasih waktu dan juga menjadi gaya hidup kita. Berdoa untuk kepentingan, kegunaan, berfaedah dan pertumbuhan kita. Berdoa membangun relasi dengan Allah Bapa, membangun iman serta menguatkan kita di tengah kebutuhan kita.

Apa yang kau cari saat kau bangun tidur? Handphone? Melihat berita? Ataukah kau mencari Dia dan berdoa padaNya? Ketika mau naik mobil/kendaraan umum, ketika mau bekerja, apakah kau berdoa pada Dia?

Jemaat mula-mula bisa tenang menghadapi penganiayaan dan kekurangan karena doa sudah menjadi gaya hidup mereka, ketergantungan pada Kristus yang sudah mati dan bangkit untuk mereka!

Belajar Dari Kehidupan Yesus

Teladan HidupNya

Kalau kita menjadi murid Yesus, maka kita harus ikut kata-kata Kristus.
*Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Lukas 18:1) & Yesus mengajarkan bahwa kita harus berjaga-haga, waspada dan selalu berdoa ( Lukas 21:36).

Kalau Yesus berkata doa itu adalah penting, maka kita juga harus percaya, menghargai, dan ikut kata-kata Kristus. Kalau kita tidak berdoa, berarti kita tidak menghargai Kristus!

Lihat gaya kehidupan doa Yesus di Markus 1:35, Markus 6:46, Lukas 6:12; Mat 4:2, Lukas 6:12; 22:39,41-43: pagi subuh berdoa, 40 hari berpuasa dan berdoa, semalaman berdoa, terbiasa ke tempat yang sama berdoa, berdoa dengan penuh pergumulan (And being in agony he prayed more earnestly; and his sweat became like great drops of blood falling down to the ground,
luke 22:44) —- Yesus menunjukkan bahwa doa tidak pernah tergantikan oleh aktivitas, pelayanan apa pun. Yesus berdoa senantiasa, dan itu merupakan gaya hidupNya.

Sayangnya, banyak anak Tuhan yang malas berdoa, jarang berdoa.

Mengapa Tidak Berdoa?

[1] Kita suka bergantung pada diri sendiri

Kecenderungan manusia suka pada kekuatan sendiri, sombong pada kemampuan dan pola pikir kita. Sehingga berdoa biasanya adalah langkah terakhir saat tidak ada “no way out”.

[2] Kita suka aktivitas

Kita sibuk sekali; kita suka dengan achievement, akhirnya membuat kita capai, lelah, fatigue. Di kontraskan dengan berdoa yang menuntut kita untuk tenang, berdiam – kita tidak betah!

Menariknya, Tuhan justru prioritaskan agar kita untuk diam dan berdoa padaNya.

[3] Kita suka tidak bisa menguasai diri

Lihat 1Petrus 4:7, 1Petrus 3:7, juga nasehat Yesus ( Luke 21:36) agar kita berjaga-jaga (waspada, hati-hati, guard our heart) dan selalu berdoa. Ketika orang tidak disiplin, tidak berjaga-jaga, mau memuaskan hawa nafsunya terus, akan sulit untuk orang mau berdoa. Orang yang tidak bisa menguasai dirinya (punya self control yang rendah) akan sulit untuk berdoa.

Bagaimana Bisa Menjadikan Doa Sebagai Gaya Hidup Kita?

[1] Setiap kita bergumul dalam setiap masalah, datang pada Tuhan

Bukan sewaktu masalah itu sudah besar, baru kita berdoa. Tapi di setiap aktivitas kita, kekuatiran, dan apa pun juga.

(2) Perhatikan Teladan Yesus Kristus & kita biasakan melakukan hal tersebut.
Yesus “pergi pagi-pagi benar untuk berdoa”, “di tempat yang sunyi”, “seperti biasanya ( Lukas 22:39)

a. Waktu/Time; Pilih waktu yang tepat untuk berdoa.
Kasih waktu setiap hari untuk berdoa, waktu yang terbaik bagi kita untuk berikan pada Tuhan.

b. Tempat/Place; Cari & Pilih tempat yang nyaman, cocok untuk anda.
Di tempat yang biasa kita lakukan, tempat yang sunyi

c. Kebiasaan/Habit. Jadikan berdoa di waktu dan tempat yang sama sebagai habit, kebiasaan, gaya hidup anda. Kebiasaan membentuk sikap dan tindakan kita. Dengan kekuatan dari Tuhan Yesus dan Roh Kudus memampukan kita untuk menghidupkan kebiasaan berdoa sebagai gaya hidup kita. Roh Kudus memberikan kekuatan atau kuasa sehingga kita mampu untuk disiplin dan menguasai diri serta konsisten menghidupkan doa dalam hidup kita.

Dalam sejarah, orang-orang yang dipakai Tuhan selalu mempunyai waktu dan meyisihkan waktu untuk berdoa seperti misalnya Daniel ( Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.
Daniel 6:11).

X