Berbahagialah orang yang membawa damai

  


Seri Yesus Raja Damai
Adrian Kencana
Ringkasan khotbah 27 Oktober 2020
Matius 5:9

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”

Kita akan mempelajari satu-satu, sebelum nanti kita gabung kembali menjadi satu kesatuan yang utuh.

Apakah “berbahagia”/“blessed” itu?

Dalam bahasa Yunaninya, blessed (“Makarios”) berarti diberkati, berbahagia; dan yang dimaksudkan sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan ada nya berkat atau perasaan bahagia. Tetapi suatu keadaan dimana kita berada dalam hubungan yang intim dengan Tuhan (diberkati dari sudut pandang Tuhan dimana Tuhan memandangkan wajahNya, bahkan ketika dia tidak merasa bahagia – Michael J Wilkins).

Ucapan berkat di akhir kebaktian dari Bilangan 6:24-26, menekankan wajah Tuhan yang berhadapan dengan kita dan menyinari kita.

Apakah “damai” itu?

Sebuah meditasi memfokuskan diri pada pikiran, dan bukan perasaan supaya kita merasa tenang atau damai (serenity). Ada juga yang pergi ke tempat yang sunyi untuk mendapatkan ketenangan, atau kedamaian. Atau apakah seperti air tenang di sebuah danau yang tidak di ganggu?

Kata damai dalam bahasa Ibrani (Perjanjian Lama) ada kata “Shalom” (“damai sejahtera bagi saudara”), dan bahasa Yunani (Perjanjian Baru) atau “Eirene” artinya peace, damai (lebih dari ketenangan yang tidak ada gangguan atau kesunyian).

What is peace then? Completeness, wholeness, dan harmony; termasuk semua aspek kehidupan kita seperti kesehatan, kebutuhan hidup, relationship dengan Tuhan dan sesama.

“Shalom is not just an absence of problem or conflict, but the presence of something better in its place: completeness, wholeness, harmony”.

Dan tentu kita ingin “Shalom” ini, bukan? Tapi ketika kita melihat hidup kita, peace atau shallom ini tidak murah untuk di dapatkan. Selalu pasti ada hal yang dikorbankan untuk mendapatkan shallom ini (misalnya, banyak pahlawan dan orang-orang berkorban dalam perang untuk mendapatkan kedamaian, bebas dari penjajahan).

Selalu ada harga yang mahal untuk mendapatkan kedamaian.

Apakah “membawa damai” itu?

Peacemaker = satu kata; artinya adalah “peace + make/do”. Dan peacemaker (pembuat damai) berbeda dengan “peacekeeper” (penjaga damai). Peacemaker membuat dari yang tidak damai menjadi damai, ada langkah aktif.

Pengadaan perdamaian adalah salah satu motif tema yang paling penting dari seluruh alkitab. Dan Allah lah the ultimate Peacemaker, dimana Dia memperdamaikan segala sesuatu dengan darah Yesus Kristus  (Kolose 1:19-20, Roma 5:1). Damai yang kita terima dalam Kristus bukan hal murahan; tidak terukur mahalnya!

Tuhan lah Pendamai yang termulia dan tertinggi! Dan kita mendapatkan hak ter istimewa dari pendamaian ini, yaitu kita menjadi anak-anak Allah. Dan sebagai anak anak Allah, kita di harapkan untuk mempunyai karakter yang sama dengan Allah kita, bukan?

Apakah “anak-anak Allah” itu?

Di sini Yesus tidak mengajarkan bagaimana menjadi anak-anak Allah, tapi dipakai untuk menggambarkan seorang anak Allah harusnya mempunyai sifat, perilaku seperti Allah Bapa kita.

Dan kiranya kita rindu untuk mempunyai karakter-karakter seperti Allah, pembawa damai, dan dikenal sebagai anak-anak Allah – membawa pujian untuk Allah Bapa kita.

Menjadi pembawa damai adalah buah dari keselamatan kita, bukan akar dari keselamatan kita!

Seperti apakah peacemaking itu? What does peacemaking look like? 2Korintus 5:18-20

[1] Others to God

[2] Us to Others

A. Lihat Matius 5:45-47.

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” – ini lah yang dilakukan Kristus saat Dia disalibkan. Marilah kita renungankan bagaimana kita sendiri telah menerima pendamaian dari Kristus sendiri.

Matius 6 menuliskan bagaimana Yesus mengajar kita untuk mendoakan musuh kita, yaitu doa Bapa Kami. Kita berdoa supaya nama Bapa dikuduskan di hati mereka, supaya mereka menginginkan kerajaan Surga, kehendak Allah di atas hidup mereka.

b. Jika ada perpecahan, jangan lah berlama-lama dan menyimpan dendam. Kita cenderung menghindari orang yang kita kesali, kita sebarkan gosip, dan kita pupuk dendam tersebut makin lama makin dalam, makin mencengkeram hati kita. Kita sering mengulang-ulang kembali kejadian dan perkataan orang yang menyakiti hati kita.

Kita dipanggil bukan untuk menjadi peacekeepers, menghindari konflik di depan, tapi dipanggil untuk menjadi peacemakers! Berdoalah supaya kasih dan pengampunan Kristus yang mahal itu memampukan kita untuk mengampuni orang lain seperti Allah telah mengampuni kita!

—-

Tidak ada janji bahwa di saat kita menjadi seorang peacemaker, maka kita akan selalu mendapatkan damai tersebut/berhasil. Roma 12:18 menuliskan kita sedapat mungkin hidup dalam perdamaian; jangan sampai kita yang menimbulkan perselisihan atau sumber nya.

“Hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” – apakah ini berarti kita harus mengikuti kemauan setiap orang? Tentu tidak.

Our responsibility vs right priority: Prioritas yang benar ada di dalam Matius 5:10-11 (…oleh sebab kebenaran….jika karena Aku…). Kita tidak boleh berkompromi dan mengorbankan kebenaran dan nama Tuhan.

Adalah sangat bodoh kalau kita mengorbankan darah yang mahal dan tidak terukur yang mendamaikan kita dengan Allah,  untuk perdamaian dunia yang fana.

Blessed are the peacemakers, for they will be called sons of God – Matius 5:9.

Post a comment

X