No comments yet

Tanggung jawab jemaat terhadap pemimpin Gereja II

THE IMPORTANCE OF PRAYER

Penulis memakai istilah yang menarik soal doa. Umumnya doa dari arti aslinya adalah permintaan kepada Tuhan, tapi di sini istilah yang dipakai adalah Proseuchomai (pro – towards, facing, ephasizing the direct approach of the one who prays in seeking God’s face | euchomai – originally to speak out, utter aloud, express a wish, then to pray)

Penulis mendesak (I urge you the more earnestly to do this) – betapa dia mengerti ada kuasa dalam doa! Doa adalah suatu kebutuhan buat kita. Kita datang kepada Tuhan, berikan hati dan hidup kita secara total pada Dia. Banyak dari kita tidak bisa berdoa karena ada masalah di hati kita dimana hubungan kita bermasalah pada Tuhan. Doa tidak bisa digantikan dengan pelayanan, dengan action, dengan kita datang ke kebaktian hari Minggu, dan dengan belajar firman Tuhan. Doa adalah dimana kita berhenti dari kesibukan dan apa pun yang kita lakukan, dan menguasai diri, menyerahkan hati kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan, comes toward God.
Doa menunjukkan kekristenan yang bertumbuh, menunjukkan ketergantungan kita kepada Tuhan. Saat kita berhenti berdoa, di situ momen kita berhenti bergantung pada Tuhan. Kesibukan, hidup yang sudah enak, rutinitas, sering membuat kita malas dan lupa bedoa pada Tuhan. Dan kadang Tuhan ijinkan sesuatu terjadi pada kita supaya kita ingat dan kembali kepada Tuhan! Saat semua berjalan lancar dan doa-doa kita sudah dijawab, sering kita bukannya semakin dekat sama Tuhan, tapi malah melupakan Dia.

Doa merupakan suatu kesempatan yang indah yang diberikan Tuhan kepada kita, supaya kita bisa punya relasi yang semakin dekat dengan Dia setiap waktu. Bahkan Tuhan Yesus pun berdoa penuh, bangun pagi pagi dan meluangkan di tengah kesibukan pelayanan Dia, untuk berdoa kepada BapaNya! Apalagi kita??

APA YANG BISA DIDOAKAN?
1) SUPAYA PUNYA HATI NURANI YANG BAIKĀ  (ayat 18)

Hati nurani yang baik akan memuliakan Tuhan. Hati nurani sangat penting untuk para pemimpin dan juga untuk kita dalam hidup ini. Hati nurani yang tidak baik akan mengakibatkan tindakan yang tidak baik juga, yang tidak memuliakan Tuhan.

Hati nurani = suneidesis from sun – with + eido – know) literally means a “knowing with”
Hati nurani/suara hati adalah bagian yang Tuhan ciptakan dan tanamkan dalam diri kita. Suara hati tidak menyelamatkan kita karena semua orang ada suara hati tapi suatu “kompas” yang Tuhan berikan. Bahwa pengetahuan saja tidak cukup, karena harus diterapkan. Karena itu hati nurani diterjemahkan dengan “knowing with”, pengetahuan yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh: seorang dokter tahu merokok itu merusak kesehatan tapi ada juga dokter yang merokok!

Roma 2:14-15 membuktikan bahwa ada hati nurani yang diberikan Tuhan pada setiap manusia sehingga manusia tahu akan dosa. Ibrani 9:14 berkata bahwa hati nurani kita disucikan oleh darah Yesus Kristus, ini lah bedanya dengan hati nurani orang dunia. Kiranya para pemimpin gereja dan juga orang Kristen pada umunya punya hati nurani yang sensitif, supaya tidak menjadi batu sandungan! Saat kita mulai malas renungan, malas belajar dan mendengarkan firman Tuhan, hati nurani kita akan mulai tidak sensitif lagi. Apa yang kita makan akan mempengaruhi kesehatan kita, sama juga halnya dengan makanan rohani kita! Suara hati kita harus terus dijaga supaya bertumbuh dengan sehat. Kalau makanan kita tidak sehat (rohani), akan terlihat dari ucapan, attitude, keputusan yang kita ambil, dan hidup kita.

Hati-hatilah karena saat makanan rohani kita tidak ada atau kurang, kita akan jatuh! Dan akibatnya, pengambilan keputusan kita akan selalu salah dalam hidup. Saat rutinitas dan kegiatan mulai membuat kita semakin jarang berhubungan dengan Tuhan, disitulah momen kita untuk duduk lagi di hadapan Tuhan, meminta ampun, dan mengucap syukur atas anugrahnya pada kita. Jangan biarkan suara hati kita menjadi tidak peka pada pimpinan Tuhan karena hati kita akan menjadi keras! Demikian halnya dengan karakter dan attitude kita yang kita biarkan – yang akhirnya membuat kita menjadi orang yang tidak peka lagi dan menyesal di masa datang karena sudah terlambat.

2) BERDOA SUPAYA TUHAN MEMBANTU DALAM KEADAAN YANG KITA TIDAK BISA KONTROL (ayat 19)
“…supaya aku lebih lekas dikembalikan kepada kamu/..urge you…that I may be restored to you the sooner.”

Saat kita dihadapkan pada keadaan yang kita tidak bisa kontrol, kita seharusnya menyerahkan pada Tuhan yang mampu melakukan segala hal di luar kemampuan dan pikiran kita.
Tuhan menjawab “not yet” di perikop ini dan penulis mendesak supaya terus menerus mendoakan dan menunggu momen Tuhan. Momen di saat Tuhan berkata “not yet”, teruslah berdoa, berharap, dan dekat pada Tuhan sampai Dia menjawab pada waktuNya.

Banyak momen dalam hidup kita yang di luar kontrol kita dan mungkin ini saatnya kita berkata “I give up, I want to rely on You, God!”. Mungkin ini saatnya buat kita untuk menyerahkan situasi dan hidup kita, berdoa dan menanti waktu Tuhan. Tuhan bisa bekerja dalam segala hal – apa pun jawabannya, berharaplah terus pada Tuhan!

Teruslah berdoa, menyerahkan hidup kita, saling mendoakan satu sama lain, dan juga mendoakan para pemimpin Gereja kita, karena mereka butuh doa kita.

NOTE: Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Enhanced by Zemanta

X