Transformation in Worship

Adrian Kencana
Ringkasan khotbah 22 Oktober 2017

Rekaman Praise & Worship

Worship bukan hanya sekedar menyanyi, tapi seluruh aspek kehidupan kita. Kata Worship aslinya berasal dari “menilai sesuatu lebih berharga dan paling berharga”; kebalikannya adalah menganggap murahan atau worthless.

Maleakhi 1:6-2:9 – kita bisa melihat kemuakan Tuhan pada bangsa Israel.

The Cause of Worthless Worship

Ada 2 kata yang sangat penting di dalam buku Maleakhi: honour and fear.

The failure to fear God and obey

The fear of the Lord brings obedience, the beginning of knowledge and wisdom. To fear = menganggap sesuatu besar sampai ada rasa takut, kebalikannya menganggap sesuatu sebagai rendah atau weak.

Without obedience:
– Their sacrifices are useless (1:10)
– They cause many to stumble (2:7-9)

Memang pasal ini ditujukan untuk para imam Israel waktu itu, tapi kalau para Imam waktu itu saja yang seharusnya menjadi duta besar Kristus dan teladan ketaatan bisa gagal, tidak heran kalau kita pun juga jatuh dalam dosa yang sama! Tapi lihat 1Petrus 2:9, kita pun dipanggil menjadi “imam” (royal priesthood), representatives of God in this world!

The failure to honour God and give the best (1:6a)

Honour menghasilkan Adoration, Affection. Sebaliknya, worthless akan menghasilkan insult/penghinaan seperti seorang pengemis yang “menyusahkan” kita! Kalau kita tidak melihat His worth, maka kita tidak akan memberikan persembahan dan worship kita yang terbaik untuk Tuhan!

Israel failed to communicate God’s great worth (1:11-12). Have we done any better?
Mungkin ada yang berpikir bahwa kita tidak lagi memberikan persembahan seperti bangsa Israel dan merasa ini tidak relevan bagi kita. Tapi coba perhatikan your Worship pada Tuhan saat ini: Bagaimana saat kita melayani? Saat kita datang berbakti, saat menaikan puji-pujian? Saat kita berdoa? Saat kita belajar dan bekerja? Karena itu semua seharusnya worship kita kepada Tuhan!

Kita rela menonton film dan konser berjam-jam, tapi sering kita mengeluh saat kebaktian atau khotbah kepanjangan. Atau kita rela datang sepagi mungkin untuk mendapatkan kursi terbaik dalam sebuah film atau konser, tapi di saat datang berbakti pada Tuhan, terasa sangat berat dan sulit.

Kalau kita sebagai duta besar Tuhan begitu asal-asalan dalam menyembah Tuhan, bagaimana dunia bisa melihat Tuhan yang kita sembah?

Dalam pasal 2, Tuhan mengutuk bangsa Israel yang mengejek dan merendahkan Tuhan.

Kalau kita merasa kita juga jatuh di dosa yang sama, lalu bagaimana kita bisa menyembah dengan benar?

Kegagalan bangsa Israel adalah pada persepsi mereka tentang Tuhan – mereka tidak melihat Tuhan sebagai Tuhan yang layak untuk disembah.

The reason for true worship

God’s greatness (1:11)

“My name will be great among the nations”
The LORD of Armies – TUHAN Semesta Alam (diulang 11 kali dalam perikop ini)

How Great is our God? Omnipotent, Omnipresence, Omniscient, the Creator of the whole earth and universe, The Most Holy, dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menceritakan kebesaran Tuhan kita!

Fear of the LORD, is an appropriate response and should lead us to repentance and obedience. Fear, lebih dari sekedar respect. Lihat Yesaya 6:5.

God’s LOVE (1:2a)

“I have loved you”, says the LORD -> bukan berarti Tuhan dulu mencintai tapi sudah tidak lagi, tapi menunjukkan bahwa even pada saat itu, Tuhan masih mengasihi mereka. Dia mengetahui segala kejahatan dan dosa bangsa Israel, dan Dia juga mengetahui dosa dosa kita, tapi Tuhan masih mengasihi kita. Kasih Tuhan begitu besar untuk kita! Lihat 1Yohanes 4:10.

Kasih karunia Tuhan itu memang cuma-cuma, tapi bukan sesuatu yang murahan, gratisan. Kita telah ditebus dengan darah Yesus Kristus yang mahal. Ibrani berkata persembahan tubuh Yesus Kristus itu mempunyai efek satu kali untuk selama-lamanya.

Jadi marilah kita takut akan Tuhan, menghargai, menghormati Tuhan kita dan meninggikan Dia di atas yang lain. Di atas kenyamanan kita. Jangan sampai kita merendahkan standard Tuhan kepada apa yang menyenangkan kita saja, tapi berikanlah yang layak kepada Tuhan, yaitu yang terbaik. Dari waktu kita, dari pemberian kita, pelayanan kita, dan dari keseluruhan hidup kita.

God rightly demands our obedience, and God deserves our best.

X