The fellowship of the Saints

Pdt Victor Liu
Ringkasan khotbah 27 Agustus 2017

Rekaman Praise & Worship

Kita tidak diciptakan sendiri (maksudnya bukan setiap orang harus menikah, karena Paulus pun tidak menikah dan berkata bagus kalau ada yang tidak menikah dan fokus pada pelayanan Tuhan), tapi kita ada saudara saudara lain di sekeliling kita.

Baca Filipi 4:21-23.

Ciri-ciri persekutuan orang-orang Kudus

Di dasarkan pada Yesus Kristus (ayat 21)

Kita sudah dipersatukan oleh karena Yesus Kristus, walaupun latar belakang kita berbeda. Apa arti orang-orang Kudus? Kalau kita lihat di alkitab, “orang kudus” bukan orang yang dibuat menjadi kudus, bukan orang yang begitu kudus hidupnya. Tetapi kita menjadi kudus karena Tuhan yang menguduskan kita melalui Kristus!

Kita orang berdosa, bermusuhan dengan Tuhan dan hanya memperhatikan diri sendiri. Namun saat kita disadarkan bahwa kita adalah orang berdosa dan bertobat, menerima Kristus yang mati di kayu salib untuk dosa kita, maka dosa kita diampuni dan kita dibenarkan. Lalu kita disebut orang kudus di mata Tuhan, tidak lagi bercela di mataNya! Kita orang kudus, dipanggil untuk hidup kudus!

Ini bukan berarti orang-orang di gereja adalah orang-orang yang baik yang suci semua, kita semua sama bobroknya dan berdosa, namun kita mau bersama-sama untuk bergumul dan hidup dalam kekudusan.

Saling memperhatikan (ayat 21-22)

Istilah “salam” atau “greet” di sini adalah sebenarnya sebuah kalimat perintah (tiga kata salam di sini) – berarti bukan memakai perasaan kita. Manusia cenderung mau nya untuk diperhatikan terus menerus, jadi kalau kita pakai perasaan kita, maka kita tidak akan pernah mau memberikan salam (apalagi pada orang yang melukai perasaan kita)!

Tidak penting latar belakang mu atau keadaanmu. Semua orang harus memperhatikan satu sama lain. Paulus menuliskan “khususnya dari mereka yang di istana Kaisar”. Surat ini ditulis pada waktu Kaisar Nero berkuasa waktu itu (yang sangat jahat). Namun menarik bahwa penjaga penjaga Paulus (pengawal Kaisar) banyak yang bertobat di istana (termasuk pembesar pembesar), percaya pada Kristus. Roma 16 menuliskan para pemimpin gereja di Roma dan nama-nama tersebut ada dalam fakta sejarah pemerintahan Roma waktu itu.

Ini berarti fellowship tidak tergantung pada status kita! Itu semua tergantung dari hati kita! Orang kaya dan sukses cenderung sombong dan merendahkan orang lain, tapi dari sini kita belajar bahwa kita semua hanyalah orang berdosa yang sudah dikuduskan Tuhan (orang kudus), tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah!

Dosa membuat orang fokus pada diri sendiri! Karena itu fellowship of the Saints dari Yesus Kristus, membuat berbeda! Kita rendah hati satu sama lain dan saling menopang satu sama lain.

Kedagingan dan iblis tidak suka dengan persekutuan yang membangun ini, sehingga kita harus hati-hati. Fellowship yang sejati harus ada berbicara kebenaran (telling the truth) dan juga ada kesetiaan (loyalty, belajar memberi dan perhatian dalam pengorbanan, kasih) -> saling mengasihi, saling mengampuni, saling menegur, bukan menggosip di belakang orangnya. Fellowship yang sejati saling memperhatikan, bukan mau nya diperhatikan! Itu adalah sifat egois dan sombong! Tidak ada tempat seperti itu dalam persekutuan orang Kudus!

Sumber nya adalah anugerah, kasih karunia Kristus (ayat 3)

Kita tidak akan mampu untuk keluar dari keegoisan diri kita dalam sebuah persekutuan kalau tidak karena kasih karunia dari Kristus! Paulus memulai buku Filipi dengan kasih karunia Kristus dan menutup nya juga dengan hal yang sama.

Arti kasih karunia (grace) diterjemahkan sebagai suatu pemberian dari Tuhan dimana kita tidak layak menerimanya. Kita orang berdosa yang tidak layak, tapi Tuhan memberikan cuma cuma.
Rahmat berbeda dengan kasih karunia. Rahmat artinya kita orang berdosa harus dihukum, tapi kita tidak jadi dihukum karena Kristus. Tuhan yang penuh rahmat mengampuni kita.

Karena kita sudah diselamatkan dengan kasih karunia Kristus, bukan karena perbuatan baik kita, kita pun harus hidup di dalam kasih karunia. Paulus mengingatkan bahwa dia ada sebagaimana dia ada hanya karena kasih karunia Kristus!

Ketika kita berelasi dengan orang, terus ingat kasih karunia Tuhan yang sudah diberikan dalam hidup kita. Kalau Dia sudah mau mengampuni kita, masakan kita tidak bisa mengampuni saudara kita? Sepanjang hidup kita, kita harus terus mengingat kasih karunia Kristus di tengah apa pun yang terjadi, sehingga kita bisa rendah hati, mengasihi, dan mengampuni!

Dan di saat kita punya fellowship yang kuat (satu sama lain, suami istri, dan sebagainya), tidak mudah kita untuk kesal dan akan menjadi berkat yang luar biasa!

X