Mencukupkan diri dalam segala keadaan

Pdt Mie Khie Liong
Ringkasan khotbah 6 Agustus 2017
Filipi 4:10-13

Rekaman Praise & Worship

Jemaat Filipi punya hubungan yang baik dengan Paulus, dan mereka memberikan beberapa bantuan saat Paulus sedang di penjara. Tapi Paulus bukan bersyukur karena pemberian materi tersebut, tetapi karena perhatian yang diberikan oleh jemaat Filipi.

Contentment is “feeling or showing satisfaction with one’s possessions, status, or situation”. Hidup berkecukupan adalah sesuatu yang langka, yang jarang kita temui, bahkan pada orang yang tersukses dan terkaya sekalipun. Contentment juga tidak natural, karena kita lahir dengan dosa dan keserakahan. Contentment juga sebuah proses, yang dialami oleh rasul Paulus.

Learning in contentment

Compare in the right way.

Manusia punya kecenderungan untuk membandingkan satu dengan yang lain, dan sering nya pada hal yang salah. Kenapa kita membandingkan? Kepada siapa kita harus membandingkan diri? Pentingkah untuk membandingkan?

Sering saat kita membanding-bandingkan, itu tidak lah berguna, tidak penting. Kita sering membandingkan diri kita dengan orang yang di “atas” (sehingga selalu berasa kurang), bukan yang di bawah (supaya kita bisa melihat kita jauh lebih cukup dan berlebihan dibanding orang banyak).

Kita seharusnya rejoice with what we have! Rejoicing adalah sebuah pilihan. Di saat kita memikirkan apa yang Tuhan sudah berikan bagi kita selama ini, kita bisa bersuka cita; dan terlebih lagi, Dia bahkan sudah memberikan Yesus Kristus untuk keselamatan kita, hal yang terbaik dan terindah yang Tuhan berikan untuk kita!

Karena ini lah Paulus bersuka cita, luapan syukur kepada Tuhan pada dia selama hidupnya, bahkan di saat dia di penjara. Ambilah waktu 1-2 menit, dan pikirkan apa saja yang Tuhan sudah berikan bagi kita sampai saat ini. Dan saya yakin kita akan berkata “Hey, I have received enough”

Growing in contentment through trials

Growing in contentment adalah sebuah proses, dan mau tidak mau (Biarpun kita tidak sukai), hanya dapat diperoleh melalui masalah, mengalaminya. Kita perlu mengalami, bukan hanya tahu dan sekedar mengerti.

Sering Tuhan menempa kita melalui pain, sama hal nya seperti seorang atlit yang berlatih, yang harus mengalami kesakitan (otot, dan lain lain). Demikian halnya dengan hidup kekristenan. The more we experience trials, the more we can grow! Spiritual muscle punya prinsip yang sama dengan body muscle, we need to strech it!

Dalam masalah, Tuhan menempa kita supaya menjadi serupa dengan karakterNya. Kita sering ingin menjadi seorang Kristen yang lebih baik, memiliki karakter seperti Kristus, dan lebih dekat dengan Tuhan, beriman padaNya; namun sayangnya, kita sering tidak mau untuk di tempa melalui masalah yang Tuhan ijinkan terjadi pada kita!

The proses is painful, but the end result is beautiful.

3) With God’s strength
Filipi 4:13 terkadang sering dipakai dengan salah; Lalu apa sebenarnya yang dikatakan firman Tuhan ini? Kita harus melihat apa yang dimaksudkan Rasul Paulus saat dia menuliskan surat ini. Saat itu dia sedang di penjara!

Dalam 2Korintus 11:23-28, Paulus menceritakan apa saja yang telah menimpa dia. Pada saat saat itu, dia tidak memakai ayat ini, lalu dia bisa mendapatkan kekuatan super ekstra. Bukan itu maksudnya, tetapi dia berkata dia bisa menghadapi segala sesuatu (pencobaan, siksaan, penderitaan dan sebagainya) karena kekuatan dari Tuhan! Dia bukan orang yang “menang” = dia tetap disiksa, dia tetap hampir tenggelam, dia tetap kelaparan dan sebagainya.

With God’s strength, we can face through hardships: marital problems, sickness, disability, financial ruins, disability, etc.
WIth God’s strength, we can rejoice!

Kalau kita mempunyai seorang anak yang sedang belajar jalan, kita mau membiarkan dia jatuh saat belajar berjalan; sehingga dia bisa belajar, dan bangkit lagi. Bayangkan kalau kita tidak pernah mau menyuruh dia berjalan karena takut dia jatuh! We grow through pain!

Tuhan mengijinkan itu semua terjadi pada Paulus sehingga dia bisa bertumbuh, dan bahkan bias menjadi teladan bagi jemaat Filipi, dan bahkan sampai saat ini!

Apa rahasia Paulus bisa bertahan?
– God’s center: Dia fokus pada apa yang Tuhan ingin dia kerjakan. Dia tahu apa yang harus dia pikirkan dan fokuskan -> Jesus Christ. Bagaimana kita bisa memperbaharui pikiran kita? Be careful with what you see, be careful with what you hear!
– In everything by prayer and supplication with thanksgiving let your requests be made known to God

Contentment is a process. But if we want to be Christ’s true disciples, we have to look at our lives, the way we spend time, the friends we are hanging around with, the things we watch and play, how we respond to trials and problems!

Paulus bisa bersuka cita bukan karena kekuatannya, tetapi karena dia begitu focused on God sehingga saat ada masalah datang, dia bisa bersyukur dan tahu karena Tuhan bekerja dalam hidupnya untuk memampukan dia dan menempanya! Kita sering menahan Tuhan untuk bisa bekerja dalam hidup kita, kita tidak mau!

X