Hidup dalam dunia pluralisme

Pdt Victor Liu
Ringkasan khotbah 4 Februari 2018

Rekaman Praise & Worship

Dunia pluralisme saat ini mengajarkan bahwa ada banyak kebenaran untuk menginterpretasi sesuatu hal (suatu hal yang berbeda dengan kita anak-anak Tuhan yang memegang Firman Tuhan sebagai kebenaran mutlak). Dunia pluralisme pun umumnya menyandarkan prinsip pada budaya dimana kita berada.

Kita tinggal dalam suasana dunia yang identik dengan suasana di jaman Daniel. Ketika kerajaan Yehuda (Israel bagian Selatan) dihancurkan oleh Babel, Yerusalem dihancurkan dan orang-orang Israel dibuang ke Babel (sekarang adalah negara Irak) – di bawah kuasa Raja Nebukadnezzar. Daniel pun dibuang ke Babel bersama orang-orang Israel lainnya (sekitar 604-650 SM)

Tentunya dalam pembuangan, orang-orang Israel berada dalam sebuah pemerintahan yang menyembah berhala dan kultur yang sangat berbeda. Mereka tidak menyembah Allah; tidak ada synagog untuk orang Israel menyembah Allah bersama-sama.

Identik dengan keadaan kita di jaman modern ini, bagaimana kalau kita di tempatkan dalam sebuah tempat dimana tidak ada yang menyembah Tuhan kita? Tidak ada kebaktian, tidak ada gereja, komunitas anak-anak Tuhan, dan bahkan prinsip dan kultur yang bertentangan dengan Firman Tuhan? Apa yang kita lakukan dalam situasi ini? Apakah kita menyerah? Apakah kita bahkan ikut terpengaruh?

Dunia saat ini selalu menggoda kita untuk menikmati kenikmatan sekejap, atau mempertanyakan self-image kita, penampilan untuk diterima di masyarakat, dan sebagainya. Tanpa sadar, kita hidup di dalam dunia dimana kita bisa “ikut Tuhan” tapi filosofi kita bukan berdasarkan pada pedoman Firman Tuhan! Kita sering dipengaruhi filosofi “yang penting saya bahagia” di dunia sekarang ini (contoh: cerai kalau rumah tangga sudah tidak harmonis).

Idol kita pun sudah berubah, bukan lagi patung-patung atau allah-allah lain, tetapi hobi dan prinsip dunia yang kita sembah saat ini.

Baca Daniel 1.
Kita bisa melihat bahwa nama Daniel dan teman-teman nya diubah sesuai dengan dewa dan kepercayaan bangsa Babel saat itu. Kita bisa melihat banyak referensi “dewanya [orang Babel]” yang menguatkan betapa orang Israel berada dalam tekanan besar dimana orang Babel menyembah dewa mereka yang mereka anggap hidup dan benar.

Bagaimana kita bisa hidup dalam dunia pluralisme saat ini?

Setia ikut Tuhan (ayat 8-9)

Dalam ayat 1 (605 SM) dan ayat terakhir (539 SM, kerajaan Media-Persia, bukan lagi Babel), kita bisa memperkirakan umur Daniel. Daniel kemungkinan waktu di bawa pergi tahun, masih remaja (sekitar 15-16 tahunan). Jadi Daniel berumur sampai sekitar 70an (55-an tahun) dalam pemerintahan Babel.

Sewaktu di Babel (cerita dalam pasal 1:8-9 dan seterusnya), diperkirakan Daniel berumur sekitar 19-an tahun dan kita bisa melihat anak muda ini tidak mau menajiskan diri nya pada dewa yang disembah Babel.

Kenapa Daniel bisa berbeda, di tengah suasana seperti itu? Ini karena Daniel setia mengikuti Allahnya! Daniel sudah menetapkan diri untuk menyembah Tuhan apa pun yang terjadi. Kita bisa di tempatkan pada situasi dan suasana yang berbeda total, tapi kalau kita sungguh-sungguh ikut dan menyembah Yesus, itu semua tidak akan menggoyahkan kita!

Setia menjaga kesucian hidup (ayat 8-9)

Daniel yang begitu muda, bisa mempunyai keyakinan yang begitu kuat pada Tuhan. Dia memiliki kesucian hidup. Kalau keyakinan, iman kita tidak kuat, maka kita pasti akan mengambil keputusan yang salah dalam hidup ini.

Hati yang setia pada Tuhan, selalu membawa kita dalam kesucian hidup. Kita yang sering jatuh dalam dosa, itu disebabkan karena hubungan kita yang jauh dari Tuhan! Daniel yang setia dan terpikat pada Tuhan (seperti Yusuf), tahu keputusan yang benar dan akan berkata tidak pada hal yang tidak suci di mata Tuhan!

Bertahan menjaga hubungannya dan kesetiaannya pada Tuhan sampai akhir (ayat 17, 19-21)

Daniel dikatakan sehat (bahkan lebih), posisi, kedudukan, dan kepandaian oleh Tuhan (kita lihat Firman Tuhan menulis jelas Allah yang memberikan hikmat pada mereka di ayat 17).

Menarik untuk dilihat dalam Pasal 1 bagian terakhir, dituliskan mengenai kerajaan Media-Persia, yang mengalahkan Babel. Selama sekitar 55 tahun dalam pemerintahan kerjaaan Babel, kita bisa melihat Daniel tidak berubah, tetap setia dan menjaga hubungannya pada Tuhan, tidak terbawa arus.

Betapa pentingnya bagi kita untuk terus setia pada Tuhan sampai akhir!

Daniel di tengah situasi nya diberikan posisi dan kedudukan yang begitu tinggi di istana, masih tidak terpengaruh dan tetap setia pada Allah! Kita terkadang mulai goyah saat diberikan berkat dari Tuhan; ketika kita diberikan pekerjaan, peluang bisnis, anak, pasangan hidup, kita bukannya semakin dekat pada Tuhan, tapi sering mulai menjauh dan bahkan tidak setia pada Tuhan untuk kebahagiaan dan kepentingan diri sendiri!

Kiranya kita menjadi anak Tuhan yang tidak terbawa arus seperti Daniel!

X