Our mission is "To fulfill Jesus' Great Commission whatever the cost, from the Lost to Devoted Follower of Jesus"

Rahasia menikmati berkat Allah PDF Print E-mail
Sermon Notes
Friday, 02 December 2011 05:17
Beautiful Sky

Image via Wikipedia

Rahasia menikmati berkat Allah
Ringkasan khotbah 27/11/2011
Pengkhotbah tamu Pdt Tamu Suwito

Efesus 1:3

Adalah kerinduan Bapa kita di sorga supaya anak anaknya bisa menikmati berkat yang sudah diberikanNya pada kita.

Kita mau belajar dari Asaf (siapa dia, apa kesalahan-kesalahan dia, dan bagian terakhir - bagaimana Asaf memperbaiki kesalahannya dan menikmati berkat Tuhan.

SIAPAKAH ASAF ITU?
Asaf adalah orang pilihan Allah (1Tawarikh 6), dan dipilih Daud untuk menaikkan puji-pujian untuk Allah. Dikatakan juga Asaf adalah orang yang special (1Tawarikh 16:1-5) - bahwa dia adalah pemimpin puji-pujian. Dalam 2Tawarikh 5:12-14, dikatakan bahwa Allah melawat mereka, termasuk Asaf, saat puji-pujian dinaikkan bagi Allah. Tapi sungguh sayang bahwa dia tidak menikmati berkat Tuhan.

Lihat Mazmur 73:1-5
KESALAHAN ASAF DI SINI SEHINGGA DIA TIDAK BISA MENIKMATI BERKAT TUHAN

1) DIA SALAH MEMANDANG DIRINYA SENDIRI
Banyak orang tidak dapat menikmati berkat Allah karena mereka selalu melihat diri mereka sendiri. Mereka membandingkan diri mereka dengan orang lain (lebih kaya, lebih sehat, lebih mujur). Sering kali kita seperti itu bukan, karena kita salah melihat diri kita sendiri (kita fokus pada kekurangan dan apa yang kita tidak punya).
Dia melihat dirinya selalu susah dibandingkan dengan orang lain (ayat 5). Bahkan di ayat 8 dia berkata orang-orang mencela dia.

Hidup memang tidak lepas dari gosip atau komentar negatif orang tentang kita. Tapi yang penting adalah bagaimana kita menanggapinya. Apakah kita akan pait hati? Atau tidak?

2) PUNYA PERSEPSI YANG SALAH TENTANG TUHAN (ayat 13)
Dia kesal karena dia berdoa, melayani tapi malah lebih sial daripada orang-orang lain yang tidak berdoa dan tidak memuji Tuhan. Dia salah memandang Allah yang dilihatnya tidak adil!

Asaf tapi memperbaiki kesalahannya di ayat 17, dengan melihat dari sisi pandang Tuhan, bukan dari sisi pandang dia sendiri.
Faktor terbesar yang mempengaruhi kehidupan kita , apakah kita akan susah atau semangat, adalah cara kita memandang kehidupan ini (diri kita, masa lalu kita, memandang orang lain).
Asaf pada akhirnya memandang dari sisi pandang Allah dan akhirnya dia mengerti.

Sering kita susah karena kita salah mengerti tentang Tuhan dan merasa hidup kita tidak adil (dan pada akhirnya kita berkata bahwa Tuhan tidak adil). Tuhan sudah menyiapkan berkat rohani buat kita, dan goal itu penting. Tentunya juga, proses untuk menuju goal itu juga tidak kalah pentingnya! Seperti halnya saat kita mau ke Puncak dari Jakarta, jalan nya selalu naik turun, kadang ada belokan, dan sebagainya. Kadang kita bisa melihat mobil2 lain sedang turun dan kita naik terjal. Padahal kita tidak seharusnya membanding-bandingkan seperti itu bukan? Saat kita percaya penuh pada Tuhan, pada keadaan apa pun kita saat ini adalah baik adanya, adalah untuk mempersiapkan kita saat kita diangkat naik oleh Tuhan.

Jangan marah, gelisah, dan susah saat Tuhan membawa kita "turun". Introspeksi diri kita karena saat nanti kita akan dibawa Tuhan naik, kita siap.

Paulus punya banyak alasan untuk tidak bisa bersuka cita - dia disiksa, dipenjara, dicela. Di Filipi 1:18 Paulus berkata bahwa dia mau terus bersuka cita dalam Tuhan. Dia mengalami banyak hal yang tidak enak tapi dia bisa tetap bersuka cita!  Bahkan dalam penjara pun dia berkata bahwa dia bersuka cita!
Dia tidak pernah berkata bahwa kalau dia keluar dari penjara dia akan bersuka cita. Sering kita tidak bisa bersuka cita melihat apa yang kita punya (rumah yang kecil, pekerjaan yang biasa biasa, dll). Sering kita berkata kalau kita A maka kita akan bersuka cita, ditentukan oleh situasi kita. Ini tidaklah benar! Lihatlah Paulus, betapa dia bisa tetap menikmati berkat dari Tuhan walaupun ada di posisi yang tersulit sekalipun.

Dua orang yang sama bisa ke gereja yang sama, mendengar firman Tuhan yang sama, namun bisa keluar dengan berbeda (satu bersuka cita, satu tidak). Kenapa? Itu semua tergantung dari cara pandang kita pada Allah.

Jangan pernah meragukan Allah di saat kita mengalami masalah-masalah. Ingat bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang Maha Kasih, yang selalu punya perencanaan yang baik buat kita. Saat kita sedang "turun", imani bahwa kita bisa belajar dari hal ini untuk kebaikan kita. Kalau kita bisa memahami hal ini dan mempersiapkan diri kita, maka saat kita dibawa naik oleh Tuhan, kita siap dan bisa memuliakan Tuhan.

FIlipi 1:13 - Paulus bisa menyadari apa alasan dia dipenjara - yaitu bahwa pemenjaraan dia membuat semua orang menjadi jelas, bahwa dia dipenjara semata-mata karena Kristus. Dan di ayat 14 berkata bahwa karena pemenjaraan dia itu lah, orang-orang lain punya keberanian untuk memberitakan Yesus Kristus. Hal ini lah yang membuat Paulus bersuka cita.
Hendaknya di tengah masalah ini kita bisa terus melihat Allah yang sedang bekerja - biarpun sakit dan kadang kita bingung.

Renungkan baik-baik selama kita hidup dengan percaya bahwa Allah adalah Allah yang baik. Kita terus membangun hidup kita dan membuang hal-hal yang tidak berkenan pada Allah. Asaf berkata saat dia dekat dengan Tuhan (Mazmur 73:23-24), semakin dia merenungkan firman Tuhan dan bisa melihat apa yang Tuhan inginkan dan apa yang kita inginkan. Saat kita dekat dengan Tuhan kita punya mata rohani yang baik dan benar. Bagaimana bisa dekat? Dengan membaca firman Tuhan dan melakukannya dengan setia dalam kehidupan kita. Ketika kita melakukan kehendak Tuhan, kita akan semakin dekat dengan Tuhan.
Saat kita tahu yang Tuhan mau dan kita tidak mau melakukannya, maka mata rohani kita tidak akan bisa terbuka. Dan akhirnya kita tidak tahu lagi apa kehendak Tuhan dalam hidup kita. Kedekatan dengan Tuhan lah yang membuat kita akan tahu kehendak Tuhan. Paulus dan Asaf bisa menikmati berkat Tuhan karena mereka mempunyai perspektif dari Tuhan.

Kalau kita punya perspektif sendiri, kita tidak akan bisa melihat kaca mata Tuhan. Sepuluh pengintai yang dikirim Musa kembali dengan perspektif mereka sendiri dan pada akhirnya melihat masalahnya makin lama makin besar. Tidak akan mungkin kita bisa melakukan tanggung jawab dan soal yang besar dari Tuhan kalau kita selalu pakai kacamata kita. Pakailah sudut padang Tuhan seperti Kaleb dan Yosua! Dalam Tuhan ada keberanian, dalam iman ada pengharapan!
Bangsa Israel melihat Tuhan yang kecil, mereka lupa betapa Tuhan telah melakukan perbuatan-perbuatan besar yang Tuhan sudah lakukan buat mereka!

Miliki kepekaan dan mata hati yang benar, sehingga kita punya pandangan yang benar tentang Tuhan dan bisa menikmati berkat Tuhan. Kita tidak akan pernah menyesal dan marah saat kita "turun" dan orang lain "naik".

Yakini Roma 8:28!

NOTE: Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Enhanced by Zemanta

blog comments powered by Disqus
 
More Info

Subscribe to Our Site

Keep up to date with our latest sermon notes and articles!

 Subscribe via an RSS reader or delivered to your Email address

Who's Online

We have 11 guests online