|
Articles
|
|
Tuesday, 27 May 2008 16:00 |
Sekitar tujuh tahun yang lalu dalam sebuah kelas pembinaan dasar, saya mengajarkan bahwa tujuan hidup kekristenan adalah melayani yaitu untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus. Waktu itu saya memiliki kepercayaan bila ingin memiliki hidup yang bermakna maka kita harus melayani dengan giat untuk memperluas Kerajaan Allah.Namun hari ini saya menyadari apa yang saya ajarkan tersebut tidaklah tepat sebab tujuan hidup kekristenan bukanlah untuk melayani melainkan untuk bersekutu dengan Allah.
Read more...
___________________________________________
Browse Artikel2 sebelumnya
Tujuan utama Tuhan menciptakan Adam bukanlah untuk membangun jembatan atau gedung-gedung tinggi melainkan untuk bersekutu denganNya.Dari persekutuan tersebut mungkin akan muncul jembatan dan gedung-gedung tinggi tetapi pembangunan (pelayanan) itu bukanlah tujuan utama manusia diciptakan.Allah menciptakan manusia segambar dan serupa denganNya agar Ia dapat bersekutu dengan manusia.Allah ingin bersahabat dan berbagi isi hati dengan manusia.
Satu waktu seorang sahabat saya datang dengan muka yang berseri-seri dan kelihatan sangat bahagia. Oh rupanya ia baru saja melayani (mengkonseling) seorang pelayan Tuhan yang sedang bermasalah. Sahabat saya itu mengatakan dia sangat puas setelah melayani lewat konseling itu.Saya pernah mendengar secara langsung seorang hamba Tuhan berkata alasan Mengapa ia mau melakukan pelayanan konseling adalah karena ia merasa puas bila orang yang ia layani bisa dipulihkan.
Saya juga mengalami hal yang sama yaitu merasa puas sehabis melayani jiwa-jiwa yang sedang bermasalah bahkan saya dulu sering melayani konseling via chatting.Saya juga merasa puas bila bisa membantu memberi persembahan kasih kepada misionari atau saudara seiman yang sedang bermasalah. Dulunya saya pikir apa yang saya lakukan karena saya mengasihi Tuhan tetapi akhirnya saya dibukakan bahwa sebagian besar pelayanan dan pemberian yang saya lakukan dasarnya adalah untuk mencari kepuasan (rasa bermakna) untuk diri sendiri.
Hal yang saya ungkapkan diatas kelihatannya sangat rohani tetapi sebenarnya pelayanan tidak boleh menjadi sumber kepuasan kita. Tuhan harus menjadi sumber kepuasan tertinggi bagi kita sehingga lewat keintiman itu lahirlah pelayanan yang sejati yaitu pelayanan yang lahir dari kasih. Itulah sebabnya mengapa rasul Paulus mengatakan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku ( I kor 13:3).
Seorang saudara seiman yang tidak percaya doktrin predestinasi bertanya bila memang keselamatan itu merupakan pilihan (kedaulatan) Tuhan buat apa lagi kita menginjil ?B ila memang Tuhan sudah memilih siapa yang akan diselamatkan dan siapa yang tidak buat apa lagi kita berdoa syafaat dan menginjil ? Hal ini bisa amat membingungkan terutama bagi mereka yang belum dewasa imannya.
Penginjilan yang sejati lahir bukan semata karena program atau menjalani perintah Tuhan tetapi karena hati kita dipenuhi oleh kasih Allah.Seseorang dapat bertobat atau tidak bukanlah karena kata-kata kita yang hebat ketika menginjil melainkan semata-mata karena kasih karunia Allah.
Seharusnya kita berdoa syafaat dan menginjil bukan karena ingin menambahkan jumlah jemaat atau menambah statistik orang kristen tetapi karena hati kita begitu dipenuhi oleh kasih Allah sehingga kita ingin orang lain juga boleh mengalami keindahan kasih Allah tersebut.
Bila kita memahami prinsip ini maka kita tidak akan kecewa bila orang yang kita injili tidak mau bertobat sebab tujuan kita hanyalah menyalurkan kasih Allah, bukan untuk mempertobatkan orang lain.
T. Austin Sparks berkata Jika anda ada di tempat dimana anda tidak selalu mampu berbicara tentang Tuhan, dimana hanya sedikit yang dapat anda lakukan tetapi Tuhan berharga bagi anda itu sudah merupakan pelayanan bagiNya dan anda adalah bejana yang dapat digunakanNya untuk pekerjaan apapun yang dikehendakiNya.
Cara Tuhan menjadikan kita hambaNya yang berguna adalah dengan membuat kita mengenalNya sehingga baik kita sibuk atau tidak dengan pelayanan, kita memiliki pengenalan akan Tuhan.Yang terpenting bagi kita adalah kesadaran yang bertumbuh tentang betapa pentingnya Tuhan bagi kita sehingga baik kita dapat mengerjakan sesuatu atau tidak, Ia seharusnya masih tetap sangat berharga bagi kita.
Prinsip salib harus bekerja untuk meremukkan, mematahkan, mengosongkan dan membawa kita pada pengenalan akan Allah sehingga Tuhan menjadi sumber kepuasan, sukacita dan semangat kita dalam melayani.Orang-orang kristen yang benar-benar mengalami salib merupakan orang-orang yang melayani dengan semangat yang sejati sehingga apa yang mereka lakukan berdampak kekal bagi kerajaan Allah, seperti apa yang telah ditunjukkan oleh John Wesley.Kiranya Tuhan memberikan rahmatNya sehingga kita semua dapat memiliki pemahaman ini ! (Sumber: Sunanto, Metamorphe).
|