Menjadi Saksi Yesus Kristus

Transparent Butterfly
thefost / Butterfly Photos / CC BY-NC-ND

Pdt Victor Liu
Ringkasan khotbah 19 Mei 2013

Ketika berbicara soal penginjilan, apa yang ada di pikiran kita? Apa kita tidak perduli? Atau kita merasa tidak mampu/sulit? Atau merasa tidak siap karena belum belajar banyak? Banyak konsep yang salah yang kita pegang, yang akhirnya membuat passion kita menjadi pudar dalam menjadi saksi Kristus.

Hidup selalu punya arah dan tujuan. Kalau tidak ada, maka kita akan terombang-ambing dan tidak fokus. Menjadi orang Kristen adalah menjadi saksi Yesus Kristus. Gereja pun demikian, exist untuk menjadi saksi Kristus di dunia.

Kisah Para Rasul 1 dibagi menjadi 3 bagian:
– Penampakan Yesus kepada para murid (ayat 1-3); 40 hari
– Panggilan menjadi saksi waktu kenaikan Yesus Kristus (ayat 4-11)
– Persiapan dalam menantikan Roh Kudus (ayat 12-26)

Baca Kisah Para Rasul 1:4-11.

Seorang saksi menyatakan apa yang dia lihat/saksikan dengan kebenaran. Itulah yang Yesus minta dan itulah yang dilakukan para murid-murid. Itu juga lah yang seharusnya kita lakukan.

Mengapa kita harus menjadi saksiNya?

[1] Untuk melanjutkan pekerjaan Yesus Kristus
Kita melanjutkan apa yang Yesus sudah mulai. Kekristenan ada untuk menjadi saksi. Dalam konteks Yohanes 4, Yesus berkata bahwa Dia melakukan kehendak BapaNya (pada konteks itu adalah untuk menyelamatkan wanita Samaria yang berdosa).

Tuhan mau memakai kita semua untuk menjadi saksiNya; manusia berdosa dan penuh kelemahan, yang dijamah oleh Yesus Kristus. Padahal Tuhan dalam kuasaNya bisa memakai apa saja kalau Dia mau.

[2] Karena itu adalah hal yang sangat berharga yang kita bisa berikan pada seseorang
Kita bisa memberikan harta benda, tapi itu semua tidak akan bisa dibawa ke kekekalan.

“Every new knowledge brings a new burden”

Biar kiranya semakin kita mengenal Dia, kita semakin mengerti dan yakin akan pengorbanan Yesus Kristus di salib; dan kita punya beban dan kasih untuk mengabarkan kabar gembira ini.

[3] Menyatakan karakter Tuhan
Kasih, kebaikan, anugerah, kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui kesaksian kita. Kita bersaksi bukan hanya karena keharusan, tapi karena compassion, karakter Tuhan yang dinyatakan melalui kita.

Bagaimana kita bisa efektif dalam menjadi saksiNya?

[1] Kita harus ada hubungan pribadi dengan Kristus
Murid-murid mempunyai keyakinan yang kuat akan pengorbanan dan kebangkitan Kristus setelah penampakan Kristus (ayat 3). Dari hubungan pribadi dan kesaksian hidup kita, kita bisa mengabarkan tentang kasih Yesus Kristus.

Perubahan hidup kita, dirasakan oleh orang-orang sekitar kita; kita yang dulu malas lalu mejadi rajin, atau diperbudak oleh sesuatu dan bebas, dll. Memang ada orang-orang yang tidak ikut Tuhan yang bisa keluar dari itu, tapi ujungnya adalah mereka akan membanggakan kekuatan diri sendiri. Sebagai orang Kristen, kita harus mengembalikan semuanya itu kembali kepada Tuhan dan menjadi kesempatan untuk kita bisa bersaksi bahwa Tuhan memberikan kekuatan dan bekerja dalam kehidupan kita!

[2] Bergantung pada Roh Kudus (ayat 8)
Murid-murid bertanya dari segi waktu (kronos). Yesus menjawab dari segi kronos (kronologi waktu) dan kairos (masa), yang dimana kerajaanNya kekal selamanya, tidak perlu diketahui oleh para murid. Yang perlu dilakukan adalah menjadi saksi Kristus, dan Roh Kudus akan datang untuk menjamah dan menguatkan.

Kita harus bergantung penuh pada Roh Kudus, satu pribadi Allah yang tinggal dalam diri kita. Kita diberikan kuasa oleh Roh Kudus – meyakinkan dosa, menghibur kita, menguatkan kita. Roh Kudus menolong kita menjadi saksiNya sehingga kita kuat dan berani dalam bersaksi. Ketika kita bersaksi, bukan kekuatan kita, tapi Roh Kudus lah yang meyakinkan seseorang akan dosa.

[3] Bersedia
Kita harus bersedia, available untuk menjadi saksiNya. Para murid-murid punya banyak alasan untuk tidak melakukan misi yang diberikan Yesus Kristus. Tentu akan ada pergumulan dan pengorbanan yang para murid (dan kita) akan tempuh, tapi kita harus fokus pada orang lain (tidak egois) dan punya kerinduan untuk orang-orang yang belum percaya. Dari egois, kita mau share the Gospel pada orang lain. Orang egois tidak akan mau share kabar gembira karena bisa banyak tantangan dan penderitaan (ditolak, dll).

Yesus memilih orang-orang yang sederhana untuk menjadi murid-muridNya (seorang nelayan, dll). Tapi mereka bersedia, mau belajar, mau berkorban untuk Tuhan.

Tuhan mau memakai kita. Are you available?

X